WALISONGO
Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya mengenal cerita tokoh WALISONGO dari
guru mengaji di kampung. Walisongo dikenal sebagai 9 orang wali yang
menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Setelah membaca beberapa buku sejarah
Walisongo, ternyata apa yang saya ketahui tentang Walisongo pada saat masih
kanak-kanak itu sebenarnya bukanlah 9 orang Wali kharismatik yang
menyebarkan Islam di tanah Jawa, tetapi pengertian Walisongo yang sebenarnya
adalah Dewan Dakwah atau Dewan Mubaligh yang bernama Walisongo, di dalamnya
tergabung 9 para ulama kharismatik yang berdakwah di seluruh pelosok pulau
Jawa.
Untuk lebih mengenal Dewan Dakwah Walisongo ini, saya sajikan
sejarahnya yang terdapat dalam salah satu buku Kisah Walisongo. Dan kali
ini saya sajikan Kisah Walisongo yang ditulis oleh: Abu Khalid, MA. Untuk
kisah dan pengalaman masing-masing wali yang dikenal masyarakat luas akan saya
sajikan terpisah. Dalam kisah dan pengalaman Walisongo yang ditulis oleh para
sejarawan itu melukiskan berbagai karomah yang diberikan Allah swt kepada
mereka. Bagi sebagian orang -jangankan karomah- mukjizat yang diberikan Allah
swt kepada Nabi-nabiNYA terkadang dianggap sebagai cerita bohong belaka,
walaupun telah jelas tertulis dalam kitab suciNYA. Oleh karena itu, membaca
kisah Walisongo dengan berbagai karomahnya tentu bukan hal yang paling utama
untuk diambil sebagai pelajaran. Menurut hemat saya, mengenali semangat, upaya,
keikhlasan, serta ketaatannya kepada Sang Khalik dalam menyebarkan ajaranNYA
itulah yang lebih penting untuk kita ketahui dan teladani.
Seperti yang tertulis dalam buku Kisah Walisongo tersebut, umumnya kita
mengenal Walisongo hanyalah sembilan orang yaitu: Syekh Maulana Malik Ibrahim,
Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan
Kudus, Sunan Muria, dan Sunan GunungJati
Seperti tersebut dalam Kitab Kanzul Ulul Ibnul Bathuthah yang penulisnya
dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghrobi, Walisongo melakukan sidang tiga
kali, yaitu:
Tahun 1404 M adalah
sembilan wali.
Tahun 1436 M masuk tiga wali mengganti yang wafat.
Tahun 1463 M masuk empat wali mengganti yang wafat
dan pergi.
Menurut KH Dachlan Abd. Qohar, pada tahun 1466 M, Walisongo melakukan sidang
lagi membahas berbagai hal. Diantaranya adalah perkara Syekh Siti Jenar,
meninggalnya dua orang wali yaitu Maulana Muhammad Al Maghrobi dan Maulana
Ahmad Jumadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Walisongo.
1. Walisongo
Periode Pertama
Pada waktu Sultan Muhammad 1 memerintah kerajaan
Turki, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang dari
Gujarat. Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada dua
kerajaan Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang
beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin
dengan para penduduk pribumi yaitu di kota-kota pelabuhan.
Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada pembesar Islam di Afrika Utara
dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama yang mempunyai karomah untuk
dikirim ke pulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta
memiliki karomah.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau
Jawa. Mereka adalah:
- Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur negara.
Berdakwah di Jawa bagian timur. Wafat di Gresik pada tahun 1419 M.
Makamnya terletak satu kilometer dari sebelah utara pabrik Semen Gresik.
- Maulana Ishak berasal dari Samarqand (dekat Bukhara-Rusia Selatan). Beliau
ahli pengobatan. Setelah tugasnya di Jawa selesai Maulana Ishak pindah ke
Pasai dan wafat di sana.
- Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berasal dari Mesir. Beliau berdakwah
keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan, Mojokerto Jawa Timur.
- Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maghrib (Maroko), beliau
berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom Klaten, Jawa
Tengah.
- Maulana Malik Isroil berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat
tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri.
- Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia (Iran). Ahli
pengobatan. Wafat 1435 M. Makamnya di Gunung Santri.
- Maulana Hasanuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat
pada tahun 1462 M. Makamnya disamping masjid Banten Lama.
- Maulana Alayuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat
pada tahun 1462 M. Makamnya disamping masjid Banten Lama.
- Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli menumbali (metode rukyah)
tanah angker yang dihuni jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia. Setelah
para Jin tadi menyingkir dan lalu tanah yang telah netral dijadikan
pesantren. Setelah banyak tempat yang ditumbali (dengan Rajah Asma Suci)
maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat di sana.
Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh Subakir tersebut ada di sebelah
utara Pemandian Blitar, Jawa Timur. Disana ada peninggalan Syekh Subakir
berupa sajadah yang terbuat dari batu kuno.
2. Walisongo
Periode Kedua
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali
menggantikan tiga wali yang wafat. Ketiganya adalah:
- Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa pada tahun 1421 M
menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M. Raden Ahmad
berasal dari Cempa, Muangthai Selatan (Thailand Selatan).
- Sayyid Ja’far Shodiq berasal dari Palestina, datang di Jawa tahun 1436
menggantikan Malik Isro’il yang wafat pada tahun 1435 M. Beliau tinggal di
Kudus sehingga dikenal dengan Sunan Kudus.
- Syarif Hidayatullah, berasal dari Palestina. Datang di Jawa pada tahun
1436 M. Menggantikan Maulana Ali Akbar yang wafat tahun 1435 M. Sidang
walisongo yang kedua ini diadakan di Ampel Surabaya.
Para wali kemudian membagi tugas. Sunan Ampel, Maulana Ishaq dan Maulana
Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Maulana
Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatullah, Maulana Hasanuddin
dan Maulana Aliyuddin di Jawa Barat. Dengan adanya pembagian tugas ini maka
masing-masing wali telah mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka
bertugas sesuai keahlian masing-masing.
3. Walisongo Periode Ketiga
Pada tahun 1463 M. Masuklah empat wali menjadi anggota Walisongo yaitu:
- Raden Paku atau Syekh Maulana Ainul Yaqin kelahiran Blambangan Jawa
Timur. Putra dari Syekh Maulana Ishak dengan putri Kerajaan Blambangan
bernama Dewi Sekardadu atau Dewi Kasiyan. Raden Paku ini menggantikan
kedudukan ayahnya yang telah pindah ke negeri Pasai. Karena Raden Paku
tinggal di Giri maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Sunan Giri.
Makamnya terletak di Gresik Jawa Timur.
- Raden Said, atau Sunan Kalijaga, kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau
adalah putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Sunan Kalijaga
menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.
- Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, lahir di Ampel Surabaya.
Beliau adalah putra Sunan Ampel, Sunan Bonang menggantikan kedudukan
Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1462. Sidang Walisongo yang
ketiga ini juga berlangsung di Ampel Surabaya.
4. Walisongo
Periode Keempat
Pada tahun 1466 diangkat dua wali menggantikan dua yang telah wafat yaitu
Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Maghrobi. Dua wali yang
menggantikannya ialah:
- Raden atau Raden Fattah (Raden Patah)
Raden Patah adalah murid Sunan Ampel, beliau
adalah putra Raja Brawijaya Majapahit. Beliau diangkat sebagai Adipati
Bintoro pada tahun 1462 M. Kemudian membangun Masjid Demak pada tahun 1465
dan dinobatkan sebagai Raja atau Sultan Demak pada tahun 1468.
- Fathullah Khan, putra Sunan Gunungjati, beliau dipilih sebagai anggota
Walisongo menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut.
5. Walisongo
Periode Kelima
Dapat disimpulkan bahwa dalam periode ini masuk Sunan Muria atau Raden Umar
Said-putra Sunan Kalijaga menggantikan wali yang wafat.
Konon Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang itu adalah salah satu anggota
Walisongo, namun karena Siti Jenar di kemudian hari mengajarkan ajaran yang
menimbulkan keresahan umat dan mengabaikan syariat agama maka Siti Jenar
dihukum mati. Selanjutnya kedudukan Siti Jenar digantikan oleh Sunan Bayat –
bekas Adipati Semarang (Ki Pandanarang) yang telah menjadi murid Sunan
Kalijaga.
Selanjutnya, kisah, legenda atau riwayat masing-masing wali yang dikenal
masyarakat secara umum akan disajikan pada halaman terpisah. Adapun Wali
yang dikenal masyarakat secara luas sebagai WALISONGO adalah:
1. Syekh Maulana
Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Bonang
4. Sunan Giri
5. Sunan Drajad
6. Sunan Muria
7. Sunan Kudus
8. Sunan Kalijaga
9. Sunan Gunungjati
Para peziarah Walisongo, biasanya mendatangi makam sembilan wali
tersebut. Jika ziarah itu ingin lebih lengkap maka pemimpin ziarah (yang
mengerti sejarah Walisongo) akan menziarahi pula Walisongo periode
pertama hingga periode keempat, termasuk guru-guru atau orang tua dari para
wali periode kelima. Misalnya, seseorang dari Surabaya yang telah berziarah ke
makam Sunan Drajad, ia pasti akan menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh
Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi di Gresikharjo, beliau adalah kakek Sunan
Drajad dan ayah dari Raden Rahmat Sunan Ampel.
Itulah sejarah singkat Walisongo, semoga dapat menambah pengetahuan anda
semua. Amin!
Ringkasan Silsilah dari Rasulullah sampai Walisongo
RASULULLAH MUHAMMAD SAW
|
IMAM ‘ALI AL-MURTADHA BIN ABU THALIB
|
IMAM HUSEIN AS-SAYYID BIN IMAM ‘ALI AL-MURTADHA BIN
ABU THALIB
|
IMAM ‘ALI ZAINAL ABIDIN bin IMAM HUSEIN AS-SAYYID
|
IMAM MUHAMMAD AL BAQIR bin IMAM ‘ALI ZAINAL ABIDIN
|
IMAM JA’FAR ASH-SHADIQ bin IMAM MUHAMMAD AL BAQIR
|
‘ALI AR-URAIDHI bin IMAM JA’FAR ASH-SHADIQ (Leluhur
Jamaludin Husein Al-Akbar)
|
JAMALUDIN HUSEIN AL-AKBAR (LELUHUR WALI SONGO)
|
WALISONGO
1. Syekh Maulana Malik Ibrahim
Jauh sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah
ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara. Termasuk di desa Leran. Hal
itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah Binti
Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriyyah atau pada tahun 1082 M.
Jadi, sebelum jaman Walisongo, Islam sudah ada di Pulau Jawa yaitu daerah
Jepara dan Leren. Tetapi Islam pada masa itu belum berkembang secara
besar-besaran.
Maulana Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek
Bantal itu diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M, beliau berdakwah di
Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419.
Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja
dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian rakyat
Gresik sudah ada yang beragama Islam tapi masih banyak yang beragama Hindu.
Atau bahkan tidak beragama sama sekali.
Dalam berdakwah Kakek Bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi
yang tepat berdasarkan ajaran Al Qur’an yaitu: “Hendaknya engkau ajak ke jalan
Tuhanmu dengan himah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik
serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang
sebaik-baiknya (QS An Nahl: 125)
Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki dan pernah mengembara
di Gujarat sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di
Pulau Jawa. Gujarat adalah wilayah negeri India yang kebanyakan penduduknya
beragama Hindu.
Di Jawa, Kakek Bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu,
melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama maupun mereka
yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan iman dari orang-orang
Islam yang bercampur dengan kegiatan musyrik. Caranya: beliau tidak langsung
menentang kepercayaan mereka yang salah itu melainkan mendekati mereka dengan
penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami
sebagaimana ajaran Nabi Muhammad saw.
Dari huruf-huruf Arab yang terdapat di batu nisannya dapat diketahui bahwa
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal, penolong fakir miskin, yang
dihormati para pangeran dan para sultan ahli tata negara yang ulung. Hal itu
menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya
pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir
miskin.
Keterangan yang tertulis di makamnya ialah sebagai berikut: “Inilah makam
Almarhum Almaghfur yang berharap rahmat Tuhan kebanggaan para Pangeran, sendi
para Sultan dan para Menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia lagi
syahid, cemerlangnya symbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal
dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan RahmatNYA dan keridhaanNYA, dan
dimasukkan ke dalam surga. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awwal tahun
822 H”
Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan.
Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam.
Dan orang-orang sakit banyak yang disembuhkannya dengan daun-daunan tertentu.
Sifatnya lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik
sesama muslim atau dengan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh
masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang
menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama
Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.
Sebagai misal, bila beliau menghadapi rakyat jelata yang pengetahuannya
masih awam sekali, beliau tidak menerangkan Islam secara “njlimet”. Kaum bawah
tersebut dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat
dipanen lebih banyak lagi. Sesudah itu mereka dianjurkan bersyukur kepada Yang
Memberikan Rezeki, yaitu Allah swt.
Di kalangan rakyat jelata Syekh Maulana Malik Ibrahim sangat terkenal,
terutama dari kalangan kasta rendah. Sebagaimana diketahui agama Hindu membagi
masyarakat menjadi empat kasta; Kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.
Dari keempat kasta tersebut kasta Sudra adalah yang paling rendah dan sering
ditindas oleh kasta-kasta yang jauh lebih tinggi. Maka ketika Syekh Maulana
Malik Ibrahim menerangkan kedudukan seseorang di dalam Islam, orang-orang Sudra
dan Waisya banyak yang tertarik. Syekh Maulana Malik Ibrahim menjelaskan bahwa
dalam agama Islam semua manusia sama sederajat. Orang Sudra boleh saja bergaul
dengan kalangan yang lebih atas, tidak dibeda-bedakan. Di hadapan Allah semua
manusia adalah sama, yang paling mulia di antara mereka hanyalah yang paling
takwa kepadaNYA.
Takwa itu letaknya di hati, hati yang mengendalikan segala gerak kehidupan
manusia untuk berusaha sekuat-kuatnya mengerjakan segala perintah Allah dan
menjauhi segala laranganNYA.
Dengan takwa itulah manusia akan hidup berbahagia di dunia hingga di
akhirat kelak. Orang bertakwa sekalipun dia dari kasta Sudra bisa lebih mulia
daripada mereka yang berkasta Ksatria dan Brahmana.
Mendengar keterangan ini, mereka yang berasal dari kasta Sudra dan Waisya
merasa lega, mereka merasa dibela dan dikembalikan haknya sebagai manusia utuh
sehingga wajarlah bila mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka
cita.
Setelah pengikutnya semakin banyak, beliau kemudian mendirikan masjid untuk
beribadah bersama-sama dan mengaji. Dalam membangun masjid ini beliau mendapat
bantuan yang tidak sedikit dari Raja Carmain.
Dan untuk mempersiapkan kader ummat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan
menyebarkan Islam ke seluruh Tanah Jawa dan seluruh Nusantara maka beliau
kemudian mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat
mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon mubaligh.
Pendirian Pesantren yang pertama kali di Nusantara itu diilhami oleh
kebiasaan masyarakat Hindu yaitu para Bikhu dan Pendeta Brahmana yang mendidik
cantrik dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka.
Inilah salah satu strategi para Wali yang cukup jitu; orang Budha dan Hindu
yang mendirikan mandala-mandala untuk mendidik kader tidak dimusuhi secara
frontal, melainkan beliau-beliau itu mendirikan bentuk Pesantren yang mirip
mandala-mandala milik kelompok Hindu dan Budha tersebut untuk menjaring ummat.
Dan ternyata hasilnya sungguh memuaskan, dari pesantren Gresik kemudian muncul
para mubaligh yang menyebar ke seluruh Nusantara.
Tradisi Pesantren tersebut berlangsung hingga di jaman sekarang, dimana
para ulama menggodok calon mubaligh di pesantren yang diasuhnya.
Bila orang bertanya sesuatu masalah agama kepada beliau maka beliau tidak
menjawab dengan berbelit-belit melainkan dijawabnya dengan mudah dan gamblang
sesuai dengan pesan Nabi yang menganjurkan agama disiarkan dengan mudah, tidak
dipersulit, ummat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti.
Seperti tersebut dalam buku History of Java karangan Sir Stamford Raffles;
pada suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrahim ditanya;”Apakah yang dinamakan
Allah itu?”
Beliau tidak menjawab bahwa Allah itu adalah Tuhan yang memberi pahala
sorga bagi hambaNYA yang berbakti dan menyiksa sepedih-pedihnya bagi hamba yang
membangkang kepadaNYA.
Jawabannya cukup singkat dan jelas, yaitu,”Allah adalah Zat yang diperlukan
adaNYA”.
Dua tahun sudah Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, beliau
tidak hanya membimbing ummat untuk mengenal dan mendalami agama Islam,
melainkan juga memberi pengarahan agar tingkat kehidupan masyarakat Gresik
menjadi lebih baik. Beliau pula yang mempunyai gagasan mengalirkan air dari
gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem pengairan
yang baik ini lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen bertambah banyak,
para petani menjadi makmur dan mereka dapat mengerjakan ibadah dengan tenang.
Andaikata Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak ikut membenahi dan meningkatkan
taraf hidup rakyat Gresik tentulah mereka sukar diajak beribadah dengan baik
dan tenang. Sebagaimana sabda nabi bahwa kefakiran menjurus pada kekafiran.
Bagaimana mungkin bisa beribadah dengan tenang jika sehari-hari disibukkan
dengan urusan sesuap nasi. Inilah resep yang harus ditiru.
Tamu dari Negeri Cermain
Ada ganjalan di hati Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dia
telah berhasil mengislamkan sebagian besar rakyat Gresik. Gresik adalah bagian
dari wilayah Majapahit. Kalau seluruh rakyat sudah memeluk Islam sementara Raja
Brawijaya penguasa Majapahit masih beragama Hindu apakah di belakang hari tidak
timbul ketegangan antara rakyat dengan rajanya.
Untuk menghindari hal itu muka Syekh Maulana Malik Ibrahim mempunyai
rencana mengajak Raja Brawijaya untuk masuk agama Islam.
Hal itu diutarakan kepada sahabatnya yaitu Raja Cermain. Ternyata Raja
Cermain juga mempunyai maksud serupa. Sudah lama Raja Cermain ingin mengajak
Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Pada tahun 1321 Masehi Raja Cermain datang
ke Gresik disertai putrinya yang cantik rupawan. Putri Raja Cermain itu bernama
Dewi Sari, tujuannya dalam misi tersebut adalah untuk memberikan bimbingan
kepada para putri istana Majapahit mengenal agama Islam.
Bersama Syekh Maulana Malik Ibrahim rombongan dari negeri Cermain itu
menghadap Prabu Brawijaya. Usaha mereka ternyata gagal. Prabu Brawijaya
bersikeras mempertahankan agama lama dengan ucapan yang diplomatis. Bahwa dia
bersedia masuk Islam bila Dewi Sari bersedia dipersuntingnya sebagai istri.
Dewi Sari menolak. Tidak ada gunanya masuk Islam bila ditunggangi dengan
kepentingan duniawi. Beragama seperti itu hanya akan merusak keagungan agama
Islam.
Rombongan dari negeri Cermain lalu kembali ke Gresik. Mereka beristirahat
di Leran sembari menunggu selesainya perbaikan kapal untuk berlayar pulang.
Sungguh sayang sekali, selama beristirahat di Leran itu banyak anggota
rombongan dari negeri Cermain yang diserang wabah penyakit. Banyak di antara
mereka yang tewas, termasuk Dewi Sari.
Kabar kematian Dewi Sari terdengar ke telinga Prabu Brawijaya. Raja yang
memang tertarik dan merasa jatuh cinta kepada Dewi Sari itu kemudian
menyempatkan diri beserta ponggawa kerajaan ke Desa Leran. Brawijaya sang Raja
Majapahit itu memerintahkan kepada para ponggawa kerajaan untuk menggali kubur
dan memakamkan Dewi Sari dengan upacara kebesaran. Di desa Leran itulah Dewi
Sari dikuburkan.
Setelah rombongan dari negeri Cermain meninggalkan pantai Leran maka Prabu
Brawijaya menyerahkan seluruh daerah Gresik kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim
untuk diperintah sendiri di bawah kedaulatan Majapahit.
Penyerahan daerah itu adalah siasat dari sang Raja agar rakyat Gresik yang
beragama Islam itu tidak berontak kepada rajanya yang masih beragama Hindu.
Amanat raja Majapahit itu diterima Syekh Maulana Malik Ibrahim dengan suka
rela. Sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan perdamaian walaupun dengan
kafir zimmi yaitu orang-orang yang bukan muslim yang mau hidup berdampingan
dengan aman dalam satu negara.
Demikianlah sekilas tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali yang
dianggap sebagai ayah dari Walisongo. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H
atau 1419 M.
2. Sunan Ampel
Asal-usul
Kenalkah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara ini terletak di Samarqand.
Sejak dahulu daerah Samarqand ini dikenal sebagai daerah Islam yang menelorkan
ulama-ulama besar seperti sarjana hadits terkenal yaitu Imam Bukhari yang
mashur sebagai pewaris hadits sahih.
Di Samarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumail
Kubra, seorang Ahlussunnah bermahzab Syafi’i, beliau mempunyai seorang putra
bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat
tambahan Samarqandi. Orang Jawa sangat sukar mengucapkan Samarqandi maka mereka
hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.
Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh
Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah ini
dilaksanakan, dan beliau kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan
dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai
(Thailand). Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan maka Ibrahim Asmarakandi
mendapat dua orang putra yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho.
Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh
Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan Ratu
Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Para Pangeran
atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya
Tuanku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat Raden.
Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya
dan kepribadiannya sangat memikat hati. Sehingga istri-istri lainnya
diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di
seluruh Nusantara. Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian,
seorang putri Cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.
Ketika Dewi Kian diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang
hamil tiga bulan. Ario Damar tidak diperkenankan menggauli putri Cina itu
sampai si jabang bayi terlahir ke dunia. Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang
nantinya bernama Raden Hasan atau lebih dikenal dengan nama Raden Patah, salah
seorang murid Sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.
Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam
Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya
perang saudara, dan para adipati banyak yang tak loyal lagi kepada keturunan
Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya.
Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit. Lebih
sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat Prabu bersedih
hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para
pangeran yang suka berpesta pora dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu
Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan negara akan menjadi
lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan betapa mudahnya bagi musuh
untuk menghancurkan Majapahit Raya.
Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati
suaminya. Dengan memberanikan diri dia mengajukan pendapat kepada suaminya.
“Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi
kemerosotan budi pekerti,” kata ratu Dwarawati.
“Betulkah?” tanya sang Prabu. “Ya namanya Sayyid Ali Rahmatullah. Putra
dari kanda Dewi Candrawulan di negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan
meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit
ini”.
“Tentu saja aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia
mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini”, kata Raja Brawijaya.
Ke Tanah Jawa
Maka pada suatu hari diberangkatkanlah utusan dari
Majapahit ke negri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke
Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh Raja Cempa, dan
raja Cempa tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman.
Keberangkatan Sayyid Ali Rahmat ke Tahan Jawa tidak sendirian. Ia ditemani
oleh ayah dan kakaknya sebagaimana disebutkan di atas. Ayah Sayyid Ali Rahmat
adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali
Murtadho. Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di
Tuban. Tetapi di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim
Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan di desa tersebut
yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.
Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berdakwah keliling
ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Di sana beliau mendapat
sebutan raja Pandita Bima, dan akhirnya berdakwah di Gresik mendapat sebutan
Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah
meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan
Ratu Dwarawati.
Kapal layar yang ditumpanginya mendarat di Pelabuhan Canggu. Kedatangannya
disambut dengan suka cita oleh Prabu Kertabumi. Lebih lebih lagi Ratu Dwarawati
bibinya sendiri, wanita itu memeluknya erat erat seolah sedang memeluk kakak
perempuannya yang berada di istana Kerjaan Cempa. Wajah keponakannya itu memang
mirip dengan kakak perempuannya.
“Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik
kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia?” tanya
sang Prabu setelah Sayyid Rahmatullah beristirahat melepas lelah. Dengan
sikapnya yang sopan santun tutur kata yang halus Sayyid Ali Rahmatullah
menjawab,”Dengan senang hati Gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya
untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka”.
“Bagus!” sahut sang Prabu. “Bila demikian kau akan kuberi hadiah sebidang
tanah berikut bangunannya di Surabaya. Di sanalah kau akan mendidik para
bangsawan dan pageran Majapahit agar berbudi pekerti mulia”.
“Terima kasih saya haturkan Gusti Prabu”,” jawab Sayyid Ali Rahmatullah.
Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap
beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah putri Majapahit
yang bernama Dewi Candrowati atau Nyai Ageng Manila. Dengan demikian Sayyid Ali
Rahmatullah adalah salah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu
raja Majapahit.
Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya, maka
beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang
pangeran. Para pangeran pada jaman dulu ditandai dengan nama depan Rahadian
atau Raden yang berarti Tuanku. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sebutan
Raden Rahmat.
Ampeldenta
Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan
berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke sebuah daerah di Surabaya yang kemudian
disebut dengan Ampeldenta.
Rombongan itu melalui desa Krian, Wonokromo terus memasuki Kembangkuning.
Selama dalam perjalanan beliau juga berdakwah kepada penduduk setempat yang
dilaluinya. Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik. Beliau membuat
kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan dianyam
rotan. Kipas-kipas itu dibagi-bagikan kepada penduduk setempat secara gratis.
Para penduduk hanya cukup menukarkannya dengan kalimah syahadat.
Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Terlebih setelah
mereka mengetahui kipas itu bukan sembarang kipas, akar yang dianyam bersama
rotan itu ternyata berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit batuk
dan demam. Dengan cara itu semakin banyak orang yang berdatangan kepada Raden
Rahmat. Pada saat demikianlah ia memperkenalkan keindahan agama Islam sesuai
tingkat pemahaman mereka.
Cara itu terus dilakukan hingga rombongan memasuki desa Kembangkuning. Pada
saat itu wilayah desa Kembangkuning belum seluas sekarang ini. Di sana-sini
masih banyak hutan dan digenangi air atau rawa-rawa. Dengan karomahNYA, Raden
Rahmat bersama rombongan membuka hutan dan mendirikan tempat sembahyang
sederhana atau langgar. Tempat sembahyang tersebut sekarang telah dirubah
menjadi Masjid yang cukup besar dan bagus, dinamakan sesuai dengan nama Raden
Rahmat yaitu Masjid Rahmat Kembangkuning.
Di tempat itu pula Raden Rahmat bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh
masyarakat yaitu: Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning. Kedua tokoh masyarakat
itu bersama keluarganya masuk Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmat.
Dengan adanya kedua tokoh masyarakat itu maka semakin mudah bagi Raden
Rahmat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya. Terutama
kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama. Beliau tidak
langsung melarang mereka, melainkan memberi pengertian sedikit demi sedikit
tentang pentingnya ajaran ketauhidan. Jika mereka sudah mengenal tauhid atau
keimanan kepada Tuhan Pencipta Alam, maka secara otomatis mereka akan
meninggalkan sendiri kepercayaan lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Setelah sampai di tempat tujuan, pertama kali yang dilakukannya adalah
membangun Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah. Ini meneladani apa yang telah
dilakukan Nabi Muhammad saw saat pertama kali sampai di Madinah.
Dan karena beliau menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah
tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel. Sunan berasal dari
kata Susuhunan, artinya Yang dijunjung Tinggi atau panutan masyarakat setempat.
Ada juga yang mengatakan Sunan berasal dari kata Suhu Nan artinya Guru Besar
atau Orang Yang Berilmu Tinggi.
Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan
pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kepada beliau.
Ajarannya yang terkenal
Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah
Moh Limo atau Tidak Mau Melakukan Lima Hal tercela yaitu:
1. Moh Main atau
Tidak Mau Berjudi
2. Moh Ngombe atau Tidak Mau Minum Arak atau
Bermabuk-mabukan
3. Moh Maling atau Tidak Mau Mencuri
4. Moh Madat atau Tidak Mau Menghisap candu,
ganja dan lain-lain
5. Moh Madon atau Tidak Mau Berzina/main
perempuan yang bukan istrinya
Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja
menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika
Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu
Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama
Islam ia tidak mau. Ia ingin menjadi Raja Budha yang terakhir di Majapahit.
Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya
bahkan di seluruh wilayah Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh
dipaksa. Raden Rahmat pun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam
beragama.
Sesepuh Walisongo
Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan
Ampel diangkat sebagai sesepuh Walisongo, sebagai Mufti atau pemimpin agama
Islam se Tanah Jawa. Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi
anggota Walisongo, mereka adalah: Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan
Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus, Sunan
Gunungjati.
Raden Patah atau Sunan Kota memang pernah menjadi anggota Walisongo
menggantikan kedudukan salah seorang wali yang meninggal dunia. Dengan
diangkatnya Sunan Ampel sebagai sesepuh maka para wali lain tunduk patuh kepada
kata-katanya. Termasuk fatwa beliau dalam memutuskan peperangan dengan pihak
Majapahit.
Para wali yang lebih muda menginginkan agar tahta Majapahit direbut dalam
tempo secepat-cepatnya. Tetapi Sunan Ampel berpendapat bahwa masalah tahta
Majapahit tidak perlu diserang secara langsung, karena kerajaan besar itu
sesungguhnya sudah keropos dari dalam. Tak usah diserang oleh Demak Bintoro pun
sebenarnya Majapahit akan segera runtuh. Para wali yang lebih muda menganggap
Sunan Ampel telah lamban dalam memberikan nasehat kepada Raden Patah.
“Mengapa Ramanda berpendapat demikian?” tanya Raden Patah terhitung
menantunya sendiri. “Karena aku tidak ingin di kemudian hari ada orang menuduh
Raja Demak Bintoro yang masih putra Majapahit Prabu Kertabumi telah berlaku
durhaka yaitu berani menyerang ayahandanya sendiri”, jawab Sunan Ampel dengan
tenang.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” “Kau harus sabar menunggu sembari
menyusun kekuatan,” ujar Sunan Ampel. “Tak lama lagi Majapahit akan runtuh dari
dalam. Diserang adipati lain. Pada saat itulah kau berhak merebut hak warismu
selaku putra Prabu Kertabumi”.
“Majapahit diserang adipati lain? Apakah saya tidak berkewajiban
membelanya?” “Inilah ketentuan Tuhan,” sahut Sunan Ampel. “Waktu kejadiannya
masih dirahasiakan. Aku sendiri tidak tahu persis kapankah peristiwa itu akan
berlangsung. Yang jelas bukan kau adipati yang menyerang Majapahit itu”, Sunan
Ampel adalah Penasehat Politik Demak Bintoro. Sekaligus merangkap Pemimpin
Walisongo atau Mufti Agama se-Tanah Jawa. Maka fatwanya dipatuhi banyak orang.
Kekuatiran Sunan Ampel tersebut memang terbukti. Di kemudian hari ternyata
ada orang-orang pembenci Islam memutarbalikkan fakta sejarah. Mereka menuliskan
bahwa Majapahit jatuh diserang oleh kerajaan Demak Bintoro yang Rajanya adalah
putra Raja Majapahit sendiri. Dengan demikian Raden Patah dianggap sebagai Anak
Durhaka. Ini dapat anda lihat di dalam Serat Darmo Gandul maupun sejarah yang
ditulis para Sarjana yang membenci Islam.
Raden Patah dan para wali lainnya akhirnya tunduk patuh pada fatwa Sunan
Ampel. Tibalah saatnya Sunan Ampel wafat pada tahun 1478. Sunan Kalijaga
diangkat sebagai penasehat bagian politik Demak. Sunan Giri diangkat sebagai
pengganti Sunan Ampel sebagai Mufti, pemimpin para Wali dan pemimpin agama
se-Tanah Jawa. Sesepuh yang selalu dimintai pertimbangannya. Setelah Sunan Giri
diangkat sebagai Mufti sikapnya terhadap Majapahit sekarang berubah. Ia
menyetujui usul Aliran Tuban untuk mencari fatwa kepada Raden Patah agar
menyerang Majapahit.
Mengapa Sunan Giri bersikap demikian? Karena pada tahun 1478 Kerajaan
Majapahit diserang oleh Prabu Rana Wijaya atau Girindrawardhana dari Kadipaten
Kediri atau Keling. Dengan demikian sudah tepatlah jika Sunan Giri menyetujui
penyerangan Demak atas Majapahit. Sebab pewaris sah tahta kerajaan Majapahit
adalah Raden Patah selaku putera Raja Majapahit yang terakhir.
Demak kemudian bersiap-siap menyusun kekuatan. Namun belum lagi serangan
dilancarkan, Prabu Rana Wijaya keburu tewas diserang oleh Prabu Udara pada
tahun 1498.
Pada tahun 1512, Prabu Udara selaku Raja Majapahit merasa terancam
kedudukannya karena melihat kedudukan Demak yang didukung Sunan Giri Kedaton
semakin kuat dan mapan. Prabu Udara kawatir jika terjadi peperangan akan
menderita kekalahan, maka dia minta bekerjasama dan minta bantuan Portugis di
Malaka. Padahal Putera Mahkota Demak yaitu Pati Unus pada tahun 1511 telah
menyerang Portugis di Malaka.
Sejarah mencatat bahwa Prabu Udara telah mengirim utusan ke Malaka untuk
menemui Alfonso d’Albuquerque untuk menyerahkan hadiah berupa 20 genta
(gamelan), sepotong kain panjang bernama Beirami tenunan Kambayat, 13 batang
lembing yang ujungnya berbesi dan sebagainya. Maka tidak salah jika pada tahun
1517 Demak menyerang Prabu Udara yang merampas tahta Majapahit secara tidak
sah. Dengan demikian jatuhlah Majapahit ke tangan Demak. Seandainya Demak tidak
segera menyerang Majapahit tentu bangsa Portugis akan menjajah tanah Jawa jauh
lebih cepat daripada bangsa Belanda. Setelah Majapahit jatuh pusaka kerajaan
diboyong ke Demak Bintoro. Termasuk Mahkota Rajanya. Raden Patah diangkat
sebagai Raja Demak yang pertama.
Sunan Ampel juga turut membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang
didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu di antara empat tiang utama Masjid Demak
hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan
Ampel.
Beliau pula yang pertama kali menciptakan Huruf Pegon atau Tulisan Arab
berbunyi bahasa Jawa. Dengan huruf pegon ini beliau dapat menyampaikan
ajaran-ajaran Islam kepada muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap dipakai
sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.
Penyelamat Akidah
Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat berhati-hati, hal ini
didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam
permusyawaratan para wali di Masjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kalijaga
mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang
dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut
bertanyalah Sunan Ampel “Apakah tidak mengkawatirkan di kemudian hari bahwa
adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal
dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah.?”
Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel,”Saya
setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa
diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islam. Sedang
adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita
tinggal sama sekali. Sebagai misal gamelan dan wayang kulit, kita bisa
memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang
kekawatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari
akan ada orang yang menyempurnakannya.”
Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus
disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang
hakiki, sehingga membuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama
secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang
sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah ummat
agar tidak tergelincir ke lembah musyrik.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah barat
Masjid Ampel.
Murid-murid Sunan Ampel
Murid-murid Sunan Ampel itu banyak sekali, baik dari
kalangan bangsawan dan para pangeran Majapahit maupun dari kalangan rakyat
jelata. Bahkan beberapa anggota Walisongo adalah murid-murid beliau sendiri.
Kali ini kami tampilkan dua kisah murid Sunan Ampel yang makamnya tak jauh
dari lokasi Sunan Ampel dimakamkan, yaitu:
Kisah Mbah Soleh
Mbah Soleh adalah salah satu dari sekian banyak murid
Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau keistimewaan.
Adalah sebuah keajaiban yang tak ada duanya, ada seorang manusia dikubur
hingga sembilan kali. Ini bukan cerita buatan melainkan ada buktinya. Di
sebelah timur Masjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan. Itu bukan kuburan
sembilan orang tapi hanya kuburan seorang yaitu murid Sunan Ampel yang bernama
Mbah Soleh.
Kisahnya demikian, Mbah Soleh adalah tukang sapu masjid Ampel di masa
hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai Masjid sangatlah bersih sekali
sehingga orang yang sujud di masjid tanpa sajadah tidak merasa ada debunya.
Ketika Mbah Soleh wafat beliau dikubur di depan masjid. Ternyata tidak ada
santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh yaitu menyapu lantai
masjid dengan bersih sekali. Maka sejak ditinggal Mbah Soleh masjid itupun
lantainya menjadi kotor. Kemudian terucaplah kata-kata Sunan Ampel. “Bila Mbah
Soleh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih”.
Mendadak Mbah Soleh ada di pengimaman masjid sedang menyapu lantai. Seluruh
lantai pun sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang pada terheran melihat Mbah
Soleh hidup lagi.
Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dikubur disamping
kuburannya dulu. Masjid menjadi kotor lagi, lalu terucaplah kata-kata Sunan
Ampel seperti dulu. Mbah Soleh pun hidup lagi. Hal ini berlangsung beberapa
kali sehingga kuburannya ada delapan. Pada saat kuburan Mbah Soleh ada delapan
Sunan Ampel meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh meninggal
dunia, sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada
di ujung paling timur.
Jika anda sempat berziarah ke makam Sunan Ampel, jangan lupa untuk berdo’a
di depan makam Mbah Soleh.
Kisah Mbah Sonhaji
Mbah Sonhaji sering disebut Mbah Bolong. Apa
pasalnya? Ini bukan gelar kosong atau sekedar olok-olokan. Beliau adalah salah
seorang murid Sunan Ampel yang juga mempunyai karomah.
Kisahnya demikian. Pada waktu pembangunan masjid Agung Ampel, Sonhaji lah
yang ditugasi mengatur tata letak pengimamannya. Sonhaji bekerja dengan tekun
dan penuh perhitungan, jangan sampai letak pengimaman masjid itu tidak
menghadap ke arah kiblat. Tapi setelah bangunan pengimaman itu jadi banyak
orang yang meragukan keakuratannya.
“Apa betul letak pengimaman masjid ini sudah menghadap ke kiblat?” demikian
tanya orang yang meragukan pekerjaan Sonhaji. Sonhaji tidak menjawab, melainkan
melubangi dinding pengimaman sebelah barat lalu berkata,”Lihatlah ke dalam
lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau
belum?”
Orang-orang itu segera melihat ke dalam lubang yang dibuat Sonhaji. Ternyata
di dalam lubang itu mereka dapat melihat Ka’bah yang berada di Mekah.
Orang-orang pada melongo, terkejut, kagum dan akhirnya tak berani meremehkan
Sonhaji lagi. Dan sejak saat itu mereka lebih bersikap hormat kepada Sonhaji
dan mereka memberinya julukan Mbah Bolong.
Dari kisah karomah para wali ataupun para murid wali, seyogyanya menjadi
pelajaran bagi mereka yang masih hidup. Ambil contoh, kisah Mbah Soleh di atas,
seharusnya mereka yang masih hidup mau meneladani sifat dan sikap Mbah Soleh
yang menyukai Masjidnya selalu bersih, karena masjid merupakan tempat yang
perlu dijaga kebersihan dan kesuciannya.
Begitulah riwayat singkat Sunan Ampel dan 2 orang muridnya. Semoga
kisah mereka bisa menjadi pelajaran hidup bagi kita sebagai generasi penerus mereka,
dan semoga amal baik mereka mendapat balasan yang baik dari Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang. Amin.
3. Sunan Giri
Di awal abad 14 M, Kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu,
salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan
rakyatnya memeluk agama Hindu dan ada sebagian yang memeluk agama Budha.
Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya,
pasalnya putri mereka satu-satunya telah jatuh sakit selama beberapa bulan.
Sudah diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang putri
belum juga sembuh.
Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda pegebluk atau
wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad Tanah
Jawa esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka cita,
dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.
Atas saran permaisuri Prabu Menak Sembuyu kemudian mengadakan sayembara,
siapa yang dapat menyembuhkan putrinya akan diambil menantu dan siapa yang
dapat mengusir wabah penyakit di Blambangan akan diangkat sebagai Bupati atau
Raja Muda. Sayembara disebar di hampir pelosok negeri. Sehari, dua hari,
seminggu bahkan berbulan-bulan kemudian tak ada seorang pun yang menyatakan
kesanggupannya untuk mengikuti sayembara itu.
Permaisuri makin sedih hatinya. Prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur
istrinya dengan menugaskan Patih Bajul Sengara untuk mencari pertapa sakti guna
mengobati penyakit putrinya. Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Bajul Sengara
berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa biasanya tinggal di puncak atau
di lereng-lereng gunung, maka kesanalah Patih Bajul Sengara mengajak
pengikutnya mencari orang-orang sakti.
Patih Bajul Sengara akhirnya bertemu dengan Resi Kandabaya yang mengetahui
adanya seorang tokoh sakti dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah
Syekh Maulana Ishak yang sedang berdakwah secara sembunyi-sembunyi di negeri
Blambangan.
Patih Bajul Sengara dapat bertemu dengan Syekh Maulana Ishak yang sedang
bertafakkur di sebuah goa. Setelah terjadi negosiasi bahwa Raja dan rakyat
Blambangan mau diajak memeluk agama Islam maka Syekh Maulana Ishak bersedia
datang ke istana Blambangan. Ia memang piawai di bidang ilmu ketabiban, putri
Dewi Sekardadu sembuh setelah diobati. Pegebluk juga lenyap dari wilayah
Blambangan. Sesuai janji Raja maka Syekh Maulana Ishak dikawinkan dengan Dewi
Sekardadu. Diberi kedudukan sebagai Adipati untuk menguasai sebagian wilayah
Blambangan.
Hasutan Sang Patih
Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi adipati
baru di Blambangan. Makin hari semakin bertambah banyak saja penduduk
Blambangan yang masuk agama Islam. Sementara Patih Bajul Sengara tak
henti-hentinya mempengaruhi sang Prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya. Hati
Prabu Menak Sembuyu jadi panas karena mengetahui hal ini.
Patih Bajul Sengara sendiri tanpa sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan
teror pada pengikut Syekh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang
dipimpin Syekh Maulana Ishak diculik, disiksa dan dipaksa kembali kepada agama
lama. Walau kegiatan itu dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada
akhirnya Syekh Maulana Ishak mengetahui juga.
Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Syekh Maulana Ishak
sadar, bila hal itu diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya
tidak perlu. Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia
segera berpamit kepada istrinya untuk pergi meninggalkan Blambangan.
Demikianlah, pada tengah malam, dengan hati berat karena harus meninggalkan
istri tercinta yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat
meninggalkan Blambangan seorang diri. Esok harinya sepasukan besar prajurit
Blambangan yang dipimpin Patih Bajul Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten
yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana Ishak. Tentu saja Patih kecele, walau
seluruh isi istana diobrak-abrik dia tidak menemukan Syekh Maulana Ishak yang
sangat dibencinya.
Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok
rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan
bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu. Bayi itu lain
daripada yang lain, wajahnya mengeluarkan cahaya terang.
Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara. Dibiarkannya bayi itu mendapat
limpahan kasih sayang keluarga istana selama empat puluh hari. Sesudah itu dia
menghasut Prabu Menak Sembuyu. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit
berjangkit lagi di Blambangan. Maka Patih Bajul Sengara bikin ulah lagi.
“Bayi itu! Benar gusti Prabu! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi
bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di
Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu!”
kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.
Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia
terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu, namun sang Patih tiada bosan-bosannya
menteror dengan hasutan dan tuduhan keji akhirnya sang Prabu terpengaruh juga.
Walau demikian tiada tega juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya
itu secara langsung. Bayi yang masih berusia empat puluh hari akhirnya
dimasukkan ke dalam peti dan diperintahkan untuk dibuang ke samodra.
Joko Samodra
Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang dari Gresik
melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada di tengah-tengah Selat Bali
tiba-tiba terjadi keanehan, perahu itu tidak dapat bergerak, maju tak bisa
mundur pun tak bisa.
Nakhoda memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu,
mungkinkah perahunya membentur batu karang. Setelah diperiksa ternyata perahu
itu hanya menabrak sebuah peti berukir indah. Seperti peti milik kaum bangsawan
yang digunakan menyimpan barang berharga. Nakhoda memerintahkan mengambil peti
itu. Diatas perahu peti itu dibuka, semua orang terkejut karena didalamnya
terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nakhoda merasa
gembira dapat menyelamatkan jiwa bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang
tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperi
kemanusiaan.
Nakhoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke
Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan
ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan cepatnya.
Di hadapan Nyai Ageng Pinatih janda kaya pemilik kapal Nakhoda berkata
sambil membuka peti itu. “Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu
secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali,” kata sang
Nakhoda.
“Bayi…? Bayi siapa ini?”, gunam Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi
itu dari dalam peti. “Kami menemukannya di tengah samodra, Selat Bali, jawab
Nakhoda kapal.
Bayi itu kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil
sebagai anak angkat. Memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Karena
bayi itu ditemukan di tengah samodra maka Nyai Ageng Pinatih kemudian
memberinya nama Joko Samodra.
Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samodra untuk
berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya. Menurut beberapa
sumber mula pertama Joko Samodra setiap hari pergi ke Surabaya dan sorenya
kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja
di Pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.
Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu
guna melaksanakan shalat tahjuud mendoakan murid muridnya dan mendoakan ummat
agar selamat di dunia dan akhirat. Sebelum berwudhu Raden Rahmat menyempatkan
diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama.
Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah
seorang santrinya. Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu
menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu
maka Sunan Ampel memberi ikatan pada murid itu.
Esok harinya, sesudah shalat subuh. Sunan Ampel memanggil murid-muridnya
itu. “Siapa di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada
ikatan?” tanya Sunan Ampel. “Saya Kanjeng Sunan…” acung Joko Samodra.
Melihat yang mengacungkan tangan Joko Samodra, Sunan Ampel makin yakin
bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai
Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samodra, kesempatan itu digunakan
Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal-usul Joko Samodra.
Nyai Ageng Pinatih menjawab sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra ditemukan
di tengah selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi
itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.
Teringat pada pesan Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai
maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak
itu diganti dengan nama Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata
Sunan Ampel, dia percaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati
masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.
Raden Paku
Sewaktu mondok di pesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat
dengan putra Raden Rahmat yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya bagai
saudara kandung saja, saling menyayangi dan saling mengingatkan.
Setelah berusia 16 tahun, kedua pemuda itu dianjurkan untuk menimba
pengetahuan yang lebih tinggi di Negeri Seberang sambil meluaskan pengalaman.
“Di negeri Pasai banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada
ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah ayah kandungmu yang nama
aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang
tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang
menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu di masa
yang akan datang”.
Pesan itu dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu
sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia
oleh Syekh Maulana Ishak ayah kandung Raden Paku yang tak pernah melihat
anaknya sejak bayi.
Raden Paku menceritakan riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan di
tengah samodra dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan
berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya.
Sebaliknya Syekh Maulana Ishak kemudian menceritakan pengalamannya di saat
berdakwah di Blambangan sehingga terpaksa harus meninggalkan istri yang sangat
dicintainya.
Raden Paku menangis sesenggukan mendengar kisah itu. Bukan menangisi
kemalangan dirinya yang telah disia-siakan kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu
tetapi memikirkan nasib ibunya yang tak diketahui lagi tempatnya berada. Apakah
ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Di negeri Pasai banyak ulama besar dari negara asing yang menetap dan
membuka pelajaran agama Islam kepada penduduk setempat. Hal ini tidak
disia-siakan oleh Raden Paku dan Maulana Makdum Ibrahim. Kedua pemuda itu
belajar agama dengan tekun, baik kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun
kepada guru-guru agama lainnya.
Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai ilmu laduni yaitu ilmu
yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otaknya seolah tiada
bandingnya. Disamping belajar ilmu Tauhid mereka juga mempelajari ilmu Tasawuf
dari ulama Iran, Baghdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.
Ilmu yang dipelajari itu berpengaruh dan menjiwai kehiduapn Raden Paku
dalam perilakunya sehari-hari sehingga kentara benar bila ia mempunyai ilmu
tingkat tinggi, ilmu yang sebenarnya hanya pantas dimiliki ulama yang berusia
lanjut dan berpengalaman. Gurunya kemudian memberinya gelar Syekh Maulana
A’inul Yaqin.
Setelah tiga tahun di Pasai, dan masa belajar itu sudah dianggap cukup oleh
Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan kembali ke tanah Jawa. Oleh
ayahnya, Raden Paku diberi sebuah bungkusan kain putih berisi tanah. “Kelak,
bila tiba masanya dirikanlah Pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul
dengan tanah dalam bungkusan ini disitulah kau membangun Pesantren”, demikian
pesan ayahnya.
Kedua pemuda itu kemudian kembali ke Surabaya. Melaporkan segala
pengalamannya kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintah Makdum Ibrahim
berdakwah di daerah Tuban. Sedang Raden Paku diperintah pulang ke Gresik
kembali ke ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih.
Membersihkan Diri
Pada usia 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang
dagangan ke Pulau Banjar atau Kalimantan. Tugas ini diterimanya dengan senang
hati. Nakhoda dapat diserahkan kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah. Walau
pucuk pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih memberi
kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.
Tiga buah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh
muatan. Biasanya, sesudah dagangan itu terjual habis di Pulau Banjar maka Abu
Hurairah diperintah membawa barang dagangan dari Pulau Banjar yang sekiranya
laku di Pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas, dan lain-lain. Dengan demikian
keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda. Tapi kali ini tidak, sesudah
kapal merapat di pelabuhan Banjar, Raden Paku membagi-bagikan barang dagangan
dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat. Tentu saja hal ini
membuat Abu Hurairah menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan Raden Paku.
“Raden …kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang
dagangan kita diberikan secara cuma-cuma?” “Jangan kawatir paman”, kata Raden
Paku. “Tindakan saya ini sudah tepat. Penduduk Banjar pada saat ini sedang
dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu
sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka. Sudahkah ibu memberikan
hartanya dengan membayar zakat kepada mereka? Saya kira belum, nah sekarang lah
saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri”.
“Itu diluar kewenangan saya Raden”, kata Abu Hurairah. “Jika kita tidak
memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam
ombak dan badai?” Raden Paku terdiam beberapa saat. Dia sudah maklum bila
dagangan habis biasanya Abu Hurairah akan mengisi kapal atau perahu dengan
barang dagangan dari Kalimantan. Tapi sekarang tak ada uang dengan apa dagangan
Pulau Banjar akan dibeli.
“Paman tak usah risau”, kata Raden Paku dengan tenangnya “Supaya kapal
tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir”. Memang benar,
mereka dapat berlayar hingga di pantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati
Abu Hurairah menjadi kebat-kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk
menghadap Nyai Ageng Pinatih.
Dugaan Abu Hurairah memang tepat. Nyai Ageng Pinatih terbakar amarahnya
demi mendengar perbuatan Raden Paku yang dianggap tidak normal itu. “Sebaiknya
ibu lihat dahulu!” pinta Raden Paku. “Sudah jangan banyak bicara, buang saja
pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja!”, hardik Nyai
Ageng Pinatih. Tetapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu, mereka
terkejut. Karung-karung itu isinya berubah menjadi barang-barang dagangan yang
biasa mereka bawa dari Banjar, seperti rotan, damar, kain, dan emas serta
intan. Bila ditaksir harganya jauh lebih besar ketimbang barang dagangan yang
disedekahkan kepada penduduk Banjar.
Perkawinan Raden Paku
Alkisah, ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki
Ageng Supa Bungkul. Ia mempunyai sebuah pohon delima yang aneh di depan
pekarangan rumahnya. Setiap kali ada orang hendak mengambil buah delima yang
berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka. Kalau tidak ditimpa penyakit
berat tentulah orang tersebut meninggal dunia. Suatu ketika Raden Paku tanpa
disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di
bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.
Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Paku, dan ia berkata,”Kau
harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah”.
Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat
memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya
yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa
itu disampaikan kepada Sunan Ampel.
“Tak usah bingung, Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik. Aku yakin
Dewi Wardah juga muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng
Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu”, demikian kata Sunan
Ampel.
“Tapi…bukankah saya hendak menikah dengan putri Kanjeng Sunan yaitu Dewi
Murtasiah?”, ujar Raden Paku. “Tidak mengapa”, kata Sunan Ampel. “Sesudah
melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiah selanjutnya kau akan
melangsungkan perkawinanmu dengan Dewi Wardah”.
Itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua
kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul
seorang bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di
Surabaya.
Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar
pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk
setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.
Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin
berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Iapun
minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan. Nyai Ageng
Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan. Andaikata hartanya yang banyak itu
dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis,
terlebih Juragan Abu Hurairah orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih menyatakan kesanggupannya
untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya, maka wanita itu ikhlas
melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.
Mulailah Raden Paku bertafakkur di goa yang sunyi, 40 hari 40 malam, beliau
tidak keluar goa, hanya bermunajat kepada Allah. Tempat Raden Paku bertafakkur
itu hingga sekarang masih ada yaitu desa Kembangan dan Kebomas.
Usai bertafakkur teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu belajar
di negeri Pasai. Diapun berjalan berkeliling untuk mencari daerah yang tanahnya
mirip dengan tanah yang dibawa dari negeri Pasai.
Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku di daerah perbukitan yang
hawanya sejuk, hatinya terasa damai, iapun mencocokkan tanah yang dibawanya
dengan tanah di tempat itu. Ternyata cocok sekali. Maka di desa Sidomukti
itulah ia kemudian mendirikan pesantren. Karena tempat itu adalah dataran
tinggi atau gunung, maka dinamakan-lah Pesantren Giri. Giri dalam bahasa
Sansekerta artinya gunung.
Atas dukungan istri-istri dan ibunya juga dukungan spiritual dari Sunan
Ampel, tidak begitu lama, hanya dalam waktu tiga tahun Pesantren Giri sudah
terkenal ke seluruh Nusantara.
Di muka telah disebutkan, bahwa hanya dalam tempo waktu tiga tahun Sunan
Giri berhasil mengelola Pesantrennya hingga namanya terkenal ke seluruh
Nusantara. Menurut Dr. HJ. De Graaf, sesudah pulang dari pengembaraannya atau
berguru ke negeri Pasai, ia memperkenalkan diri kepada dunia, kemudian
berkedudukan di atas bukit di Gresik, dan ia menjadi orang pertama yang paling
terkenal dari Sunan-sunan Giri yang ada. Di atas gunung tersebut seharusnya ada
istana karena di kalangan masyarakat dibicarakan adanya Giri Kedaton (kerajaan
Giri). Murid-murid Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru, seperti Maluku,
Madura, Lombok, Makasar, Hitu, dan Ternate. Demikian menurut De Graaf.
Menurut Babad Tanah Jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran
hampir di seluruh penjuru benua besar, seperti Eropa (Rum), Arab, Mesir, Cina
dan lain-lain. Semua itu adalah penggambaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar
yang sangat dihormati orang pada jamannya. Disamping pesantrennya yang besar ia
juga membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukkan iman ummatnya.
Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas.
Di sekitar bukit tersebut sebenarnya dahulu jarang dihuni oleh penduduk
dikarenakan sulitnya mendapatkan air. Tetapi dengan adanya Sunan Giri masalah
air itu dapat diatasi. Cara Sunan Giri membuat sumur atau sumber air itu sangat
aneh dan gaib hanya beliau seorang yang mampu melakukannya.
Peresmian Masjid Demak
Dalam peresmian Masjid Demak, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan
pertunjukkan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber
yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang.
Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar
manusia itu haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.
Jika Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak itu dengan membuka
pagelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh
masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar Masjid
Demak diresmikan pada saat hari Jum’at sembari melaksanakan shalat jamaah
Jum’at.
Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan
Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga
gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi, lebih mirip
karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.
Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu di hadapan sidang para Wali.
Karena tak bisa disebut sebagai gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri
menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah.
Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri,
karena itu, Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu.
Pemimpin para dewa dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga dinamakan Sang Hyang
Girinata, yang arti sebenarnya adalah Sunan Giri yang menata.
Maka perdebatan tentang peresmian Masjid Demak bisa diatasi. Peresmian itu
akan diawali dengan shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukkan
wayang kulit yang dimainkan oleh ki Dalang Sunan Kalijaga.
Jasa-jasa Sunan Giri
Jasanya yang terbesar tentu saja perjuangannya dalam
meyebarkan agama Islam di Tanah Jawa bahkan ke Nusantara, baik dilakukannya
sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun melalui murid-muridnya yang
ditugaskan ke luar pulau.
Beliau pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar,
seorang wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan
meremehkan syariat Islam yang disebarkan para wali lainnya. Dengan demikian
Sunan Giri ikut menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham
ahlus sunnah wal jama’ah.
Keteguhannya dalam menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekuen
membawa dampak positif bagi generasi Islam berikutnya. Islam yang disiarkannya
adalah Islam yang sesuai ajaran Nabi, tanpa dicampuri kepercayaan atau adat
istiadat lama.
Di bidang kesenian beliau juga berjasa besar, karena beliaulah yang pertama
kali menciptakan Asmaradana dan Pucung, beliau pula yang menciptakan tembang
dan tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam antara lain: Jamuran, Cublak
Cublak Suweng, Jithungan dan Delikan.
Diantara permainan anak-anak yang dicintainya ialah sebagai berikut: Di
antara anak-anak yang bermain ada yang menjadi pemburu, dan yang lainnya
menjadi obyek buruan. Mereka akan selamat dari kejaran pemburu bila telah
berpegang pada tonggal atau batang pohon yang telah ditentukan lebih dulu.
Inilah permainan yang disebut Jelungan. Arti permainan tersebut adalah
seseorang yang sudah berpegang teguh kepada agama Islam Tauhid maka ia akan
selamat dari ajakan setan atau iblis yang dilambangkan sebagai pemburu.
Sembari melakukan permainan yang disebut jelungan itu biasanya anak-anak
akan menyanyikan lagu Padhang Bulan:
“Padhang-padhang bulan, ayo gage dha dolanan,
Dolanane na ing latar,
Ngalap padhang padhang gilar-gilar,
Nundung begog hangetikar”.
(Malam terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil
di halaman, mengambil manfaat benderangnya rembulan, mengusir gelap yang lari
terbirit-birit)
Maksud lagu dolanan
tersebut ialah:
Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera
menuntut penghidupan, di muka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama
Islam, agar hilang lenyaplah kebodohan dan kesesatan.
Para Pengganti Sunan
Giri
Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1442, memerintahkan kerajaan
Giri selama kurang lebih dua puluh tahun. Mulai tahun 1487 hingga tahun 1506.
Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata.
Pengaruh Sunan Giri ini sangat besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam di
Jawa maupun di luar Jawa. Sebagai bukti adalah adanya kebiasaan bahwa apabila
seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah memerlukan pengesahan dari
Sunan Giri.
Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama hampir 200 tahun.
Sesudah Sunan Giri yang pertama meninggal dunia beliau digantikan anak
keturunannya yaitu:
1. Sunan Dalem
2. Sunan Sedomargi
3. Sunan Giri Prapen
4. Sunan Kawis Guwa
5. Panembahan Ageng Giri
6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
7. Pangeran Singonegoro (bukan keturuanan Sunan
Giri)
8. Pangeran Singosari.
Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari serbuan
Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan kapten Jonker. Serbuan ke Giri
itu adalah dalam rangka penumpasan pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo
seorang murid dari Pesantren Giri yang pernah menjungkirbalikkan Kraton
Surakarta dan bahkan pernah menjadi Raja di Kediri.
Pemberontakan Trunojoyo itu dilakukan karena tindakan sewenang-wenang dari
Sunan Amangkurat I yang pernah menumpas dan membunuh 6000 ulama Ahlus sunnah
wal jama’ah yang dituduh menyebarkan isu ketidakpuasan rakyat terhadap raja.
Padahal itu hanya fitnah dari orang-orang yang menjadi kaki tangan Sunan
Amangkurat I, mereka adalah para pengikut faham Manunggaling Kawula lan Gusti,
faham yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar yang ditentang Walisongo.
Sesudah Pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri
Kedaton. Yang tinggal hanyalah makam-makam dan peninggalan Sunan Giri, yang
dirawat oleh juru kunci makam. Meski demikian kharismanya sebagai ulama besar,
wali terkemuka tetap abadi sepanjang masa. Itu bisa Anda buktikan dengan melihat
jumlah para peziarah yang tiap hari membanjiri makamnya.
4. Sunan Bonang
Brahmana dari India
Agama Islam yang menyebar luas di Tanah Jawa cukup menggemparkan masyarakat
dari belahan dunia lain. Termasuk para pendeta Brahmana dari India. Salah
seorang Brahmana bernama Sakyakirti merasa penasaran. Maka bersama beberapa
orang muridnya ia berlayar menuju Pulau Jawa. Dibawanya pula kitab-kitab
referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan berdebat dengan penyebar
Agama Islam di Tanah Jawa.
“Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan
adu kesaktian”, ujar Brahmana itu sembari berdiri di atas geladak di buritan
kapal layar. “Jika dia kalah maka akan kutebas batang lehernya. Jika dia yang
menang aku akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan kuserahkan
jiwa ragaku kepadanya”.
Murid-muridnya, yang selalu berdiri dan mengikutinya dari belakang menjadi
saksi atas sumpah yang diucapkan di tengah samudera. Namun ketika kapal layar
yang ditumpanginya sampai di perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang
tiba-tiba bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul jadi
satu, menghantam air laut, sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.
Dengan kesaktiannya Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak
menerjang kapal layarnya. Satu dua kali hal itu dapat dilakukannya namun
terjangan ombak yang kelima kali membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke
dalam laut. Dengan susah payah dia mencabut beberapa batang balok kayu untuk
menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai
tenggelam ke dasar samudera.
Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri,
namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan
Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Padahal kitab-kitab itu
didapatkannya dengan susah payah. Cara mempelajarinya pun tidak mudah. Ia harus
belajar bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid
ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di perairan Laut Jawa,
tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah ditelan air laut.
Tapi niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut. Ia
dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya.
Ia agak bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang. Ia menoleh kesana
kemari. Mencari seseorang untuk dimintai petunjuk jalan. Namun tak terlihat
seorang pun di pantai itu.
Saat hampir putus asa, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seorang lelaki
berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Ia dan murid-muridnya
segera berlari menghampiri dan menghentikan lelaki itu. Lelaki berjubah putih
itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.
“Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama
Sunan Bonang. Dapatkah Kisanak memberitahu dimana kami bisa bertemu dengannya?”
kata sang Brahmana. “Untuk apa tuan mencari Sunan Bonang?”, tanya lelaki itu.
“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan”, kata sang Brahmana. “Tapi
sayang kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian
niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat
sebagai bahan perdebatan”.
Tanpa banyak bicara lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya yang
menancap di pasir, mendadak tersemburlah air dari lubang bekas tongkat itu
menancap, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.
“Itukah kitab-kitab tuan yang tenggelam ke dasar laut?” tanya lelaki itu.
Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar
miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa
sebenarnya lelaki berjubah putih itu.
Murid-murid sang Brahmana yang sejak tadi sudah kehausan langsung aja
menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya
dengan rasa kawatir, jangan-jangan muridnya itu akan segera mabok karena
meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.
“Segar! Aduh segarnya!”, seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya.
Yang lain segera berebutan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Brahmana Sakyakirti tercenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa
segar. Ia mencicipinya sedikit. Memang segar rasanya. Rasa herannya makin
menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu
dalam menciptakan lubang air memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang
telah tenggelam ke dasar laut. Pastilah orang berjubah putih itu bukan orang
sembarangan. Ia sudah mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu
hanya tipuan ilmu sihir? Ternyata bukan! Bukan ilmu sihir, tapi kenyataan!.
Seribu Brahmana di India tak mampu melakukan hal ini! Pikir sang Brahmana.
Dengan rasa was-was, takut dan gentar ia menatap wajah orang berjubah putih
itu. “Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?” tanya sang Brahmana dengan
hati kebat-kebit. “Tuan berada di pantai Tuban!” jawab lelaki itu. Serta merta
Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu.
Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan
Bonang sendiri.
“Bangunlah untuk apa kau berlutut kepadaku? Bukankah sudah kau ketahui dari
kitab-kitab yang kau pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama
makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung!” kata
lelaki berjubah putih yang tak lain memang Sunan Bonang adanya.
“Ampun! Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan
mata, ampunkan saya…!”, rintih sang Brahmana. “lho?” Bukankah kau ingin
berdebat denganku juga mau mengadu kesaktian?”, tukas Sunan Bonang. “Mana saya
berani melawan Paduka, tentulah ombak badai yang menyerang kapal kami juga
ciptaan Paduka, kesaktian Paduka tak terukur tingginya. Ilmu Paduka tak terukur
dalamnya”, kata Brahmana Sakyakirti.
“Kau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai”, ujar Sunan
Bonang. “Hanya Allah yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk.
Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepadaNYA, dari segala macam
bahaya dan niat jahat seseorang!”
Sang Brahmana merasa malu. Memang kedatangannya bermaksud jahat. Ingin
membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.
Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab
yang telah dipelajari terbukti. Bahwa barangsiapa memusuhi para waliNYA, maka
Allah akan mengumumkan perang kepadanya. Menantnag Sunan Bonang sama saja
dengan menantang Tuhan yang mengasihi Sunan Bonang itu sendiri.
Ia bergidik ngeri saat teringat bagaimana dirinya terombang-ambing
diterjang ombak badai, berarti Tuhan sendiri yang telah memberinya pelajaran
supaya mengurungkan niatnya memusuhi Sunan Bonang. Ia percaya, jika niatnya
dilaksanakan bukan Sunan Bonang yang kalah atau mati tapi dia sendirilah yang
bakal binasa.
“Kanjeng Sunan, sudilah menerima saya sebagai murid…”, kata Brahmana itu
kemudian. “Jangan tergesa-gesa”, ujar Sunan Bonang. “Kau harus mempelajari dan
mengenal Islam lebih banyak lagi, lebih lengkap lagi. Sebab apa yang kau
pelajari hanya sebagian-sebagian saja. Jika kau sudah memahami Islam secara keseluruhan
maka kau boleh pilih, tetap memeluk agama lama atau menerima Islam sebagai
agamamu terakhir”.
Sekali lagi sang Brahmana merasa malu. Ternyata Sunan Bonang bersifat arif
dan bijaksana, tidak memaksakan kehendak walau sudah berada di atas angin. Seandainya
Sunan Bonang memperbolehkannya untuk berlutut dia akan bersujud dan menyembah
sepasang kakinya.
“Bawa semua kitab-kitabmu, mari isinya kita bahas bersama-sama”, kata Sunan
Bonang sembari melanjutkan langkahnya. Brahmana Sakyakirti dan murid-muridnya
segera mengumpulkan kitab-kitab yang tercecer lalu mengikuti langkah Sunan
Bonang.
Pada akhirnya ia dan murid-muridnya rela masuk Islam atas kesadarannya
sendiri, dan menjadi pengikutnya yang setia.
Asal usulnya
Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang
itu nama aslinya Syekh Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel dan Dewi
Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila.
Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi.
Dengan demikian Raden Makdum adalah salah seorang Pangeran Majapahit karena
ibunya adalah putri Raja Majapahit dan ayahnya adalah menantu Raja Majapahit.
Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama
se-Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil,
Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan
disiplin.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih
berat daripada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon wali yang besar,
maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin.
Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden
Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah
seberang, yaitu negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh
Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama
besar yang banyak menetap di negeri Pasai. Seperti ulama ahli tasawuf yang
berasal dari Baghdad, Mesir, Arab, dan Parsi atau Iran.
Sesudah belajar di negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang
ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga
terkenal sebagai Sunan Giri.
Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah
Lasem, Rembang, Tuban, dan daerah Sempadan Surabaya.
Bijak Dalam Berdakwah
Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian
rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang
disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian
tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya
yang merdu di telinga penduduk setempat.
Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik
itu. Beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi,
sehingga apabila beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para
pendengarnya.
Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang
datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar
membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum
Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.
Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama
Islam kepada mereka.
Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang
berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari
agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.
Murid-murid Raden Makdum Ibrahim sangat banyak, baik yang berada di Tuban,
Pulau Bawean, Jepara, Surabaya, maupun Madura. Karena beliau sering
mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan
Bonang.
Karya Sastra
Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang
karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh
keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di
Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Suluk berasal dari bahasa Arab “Salakattariiqa” artinya menempuh jalan
(tasawuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasa
disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk. Sedangkan bila diungkapkan
secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.
Di bawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul.
Dhandhanggula
Sunan Bonang
Wragul 1
Berang-berang, jika diteliti ini raga
Belum ketemu hakikatnya
Ada atau tidakkah ia
Sebenarnya aku ini siapa
Impian beraneka ragam
Kalau dipikirkan akhirnya menyedihkan
Yang mustahil banyak sekali
Segala wujud di semesta ini
Tak putus-putus sama sekali
Wragul 2
Maka dengarkanlah perlambang ini
Ada kera hitam sedang berdiri
Di tepi sungai
Tertawa keras tak kepalang
Kepada berang-berang yang mencarai makan
Siang dan malam
Terus tanpa kesudahan
Tak ingat bahwa ia diciptakan Tuhan
Yang diingat hanya makanan
Tanpa mempedulikan
Bahaya mengancam
Wragul 3
Dilahapnya apa saja yang ia dapatkan
Tidaklah ia memperhatikan
Tuhan Yang Mahaagung yang menciptakan
Mustahil Ia tak sanggup memberi makan
Dari kehidupan hingga kematian
Apa pun saja dikodratkan
Telah disesuaikan
Ulat dalam batu pun diberi santunan
Maka jangan hanya suntuk mencari makan
Kuburnya Ada Dua
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal
dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita segera disebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari
segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.
Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di
pulau Bawean. Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya
menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel
di Surabaya. Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah mereka pun tak
mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean masih
ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.
Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep
untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkut jenazah
Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya
tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.
Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di
perairan Tuban tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa
bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di
sebelah barat Masjid Jami’ Tuban.
Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya.
Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh hikmat.
Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah karomah atau kelebihan
yang diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan di
antara murid-muridnya.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525. Makam yang dianggap asli adalah yang
berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang
dari segala penjuru Tanah Air.
5. Sunan Kalijaga
Diusir Dari Kadipaten
Sunan Kalijaga itu aslinya bernama Raden Said. Putra Adipati Tuban yaitu
Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur,
walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur
sendiri sudah masuk agama Islam.
Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru
agama Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan
yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak.
Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktik
oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat
jelata. Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya
musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang
kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan
mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen
berikutnya sudah disita para penarik pajak.
Walau Raden Said putra seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang
bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul
dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling
bawah hingga paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia
banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban.
Niat untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya.
Tapi agaknya ayahnya tak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahami posisi ayahnya
sebagai adipati bawahan Majapahit. Tapi niat itu tak pernah padam. Jika
malam-malam sebelumnya dia sering berada di dalam kamarnya sembari
mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an maka sekarang dia keluar rumah.
Di saat penjaga gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil
sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit.
Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Hal
ini dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu saja rakyat yang tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur girang
menerima rezeki yang tak diduga-duga. Walaupun mereka tak pernah tahu siapa
gerangan yang memberikan rezeki itu, sebab Raden Said melakukannya di malam
hari secara sembunyi-sembunyi.
Bukan hanya rakyat yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit
itu. Penjaga Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin
hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin
berkurang.
Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu.
Suatu malam ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak
jauh dari gudang Kadipaten.
Dugaannya benar, ada seseorang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip
penjaga gudang itu memperhatikan pencuri itu. Dia hampir tak percaya, pencuri
itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.
Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani. Kawatir
dianggap membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu hanya minta dua orang saksi
dari sang Adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang
tersimpan di gudang.
Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal
ketahuan. Ketika ia hendak keluar dari gudang sambil membawa bahan-bahan
makanan tiga orang prajurit Kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang
dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan ayahnya.
Adipati Wilatikta marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden Said tidak
menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak
disetorkan ke Majapahit itu.
Tapi untuk itu Raden Said harus mendapat hukuman, karena kejahatan mencuri
itu baru pertama dilakukannya maka dia hanya mendapat hukuman cambuk dua ratus
kali pada tangannya. Kemudian disekap selama beberapa hari, tak boleh keluar
rumah. Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya?
Sesudah keluar dari hukuman dia benar-benar keluar dari lingkungan istana.
Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya. Apa yang dilakukan
Raden Said selanjutnya?
Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok
harta orang-orang kaya di Kabupaten Tuban. Terutama orang kaya yang pelit dan
para pejabat Kadipaten yang curang.
Harta hasil rampokan itupun diberikannya kepada fakir miskin dan
orang-orang yang menderita lainnya. Tapi ketika perbuatannya ini mencapai titik
jenuh ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.
Ada seorang pemimpin perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said
menjarah harta pejabat kaya, kemudian pemimpin rampok itu mengenakan pakaian
serupa dengan pakaian Raden Said, bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng
Raden Said juga.
Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat Isya’
mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah
perampok.
Dia segera mendatangi tempat kejadian itu. Begitu mengetahui kedatangan
Raden Said kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal
pemimpin mereka yang sedang asyik memperkosa seorang gadis cantik.
Raden Said mendobrak pintu rumah si gadis yang sedang diperkosa. Di dalam
sebuah kamar dia melihat seseorang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan
topeng serupa sedang berusaha mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia sudah
selesai memperkosa gadis itu.
Raden Said berusaha menangkap perampok itu. Namum pemimpin rampok itu
berhasil melarikan diri. Mendadak terdengar suara kentongan dipukul
bertalu-talu, penduduk dari kampung lain berdatangan ke tempat itu. Pada saat
itulah si gadis yang baru diperkosa perampok tadi menghamburkan diri dan
menangkap erat-erat tangan Raden Said. Raden Said pun jadi panik dan
kebingungan. Para pemuda dari kampung lain menerobos masuk dengan senjata
terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.
Kepala desa yang merasa penasaran mencoba membuka topeng di wajah Raden
Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu sang kepala desa jadi
terbungkam.
Sama sekali tak disangkanya bahwa perampok itu adalah putra junjungannya
sendiri yaitu Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu. Raden Said
dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa adalah bukti kuat dan
saksi hidup atas kejadian itu.
Sang kepala desa masih berusaha menutup aib junjungannya. Diam-diam membawa
Raden Said ke istana Kadipaten Tuban tanpa diketahui orang banyak. Tentu saja
sang Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu merasa sayang dan
selalu membela anaknya kali ini juga naik pitam. Raden Said diusir dari wilayah
Kadipaten Tuban.
“Pergi dari Kadipaten Tuban ini! Kau telah mencoreng nama baik keluargamu
sendiri! Pergi! Jangan kembali sebelum kau dapat menggetarkan dinding-dinding
istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al Qur’an yang sering kau baca di
malam hari!”
Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said
yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban ternyata
telah menutup kemungkinan kearah itu. Sirna sudah segala harapan sang Adipati.
Hanya ada satu orang yang tak dapat mempercayai perbuatan Raden Said, yaitu
Dewi Rasawulan, adik Raden Said, yang yakin bahwa Raden Said itu berjiwa bersih
luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji. Dewi Rasawulan yang
sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasihan, tanpa sepengetahuan ayah dan
ibunya dia meninggalkan istana Kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk
diajak pulang.
Mencari Guru Sejati
Kemanakah Raden Said sesudah diusir dari Kadipaten Tuban? Ternyata ia
mengembara tanpa tujuan pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi.
Selama bertahun-tahun dia menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok
budiman? Karena hasil rampokan itu tak pernah dimakannya. Seperti dulu, selalu
diberikan kepada fakir miskin.
Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak
menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya sebagai
Brandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. Dari
jauh Brandal Lokajaya sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat
yang gagangnya berkilauan. Terus diawasinya orang tua berjubah putih itu.
Setelah dekat dia hadang langkahnya. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya
tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut
dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.
Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air
walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang
mengamat-amati gagang tongkat yang dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan
terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan
tertimpa cahaya matahari, seperti emas.
Raden Said heran melihat orang itu menangis. Segera diulurkannya kembali
tongkat itu,”Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan”.
“Bukan tongkat ini yang kutangisi,” ujar lelaki itu sembari
memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya. “Lihatlah! Aku
telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh
tersungkur tadi”.
“Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa?”, tanya Raden
Said heran. “Ya, memang berdosa! Karena kau mencabutnya tanpa suatu
keperluan. Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk
suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa!”, jawab lelaki itu.
Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
“Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini?” “Saya
menginginkan harta”, “Untuk apa?” “Saya berikan kepada fakir
miskin dan penduduk yang menderita”. “Hem, sungguh mulia hatimu, sayang…
caramu mendapatkannya yang keliru” “Orang tua… apa maksudmu?” “Boleh
aku bertanya anak muda?”, desah orang tua itu. “Jika kau mencuci
pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?”
“Sungguh perbuatan bodoh,” sahut Raden Said. “Hanya menambah
kotor dan bau pakaian itu saja”.
Lelaki itu tersenyum. “Demikian pula amal yang kau lakukan. Kau
bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu
sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing”.
Raden Said tercekat. Lelaki itu melanjutkan ucapannya,”Allah itu adalah
zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal”.
Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa malu mulai
menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini.
Dipandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. Agung dan
berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan
tertarik pada lelaki berjubah putih itu.
“Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan
penderitaan rakyat saat itu. Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan
makan dan uang kepada para penduduk miskin. Kau harus memperingatkan para
penguasa yang zalim agar mau berubah caranya memerintah yang sewenang-wenang,
kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf
kehidupannya!”.
Raden Said makin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama
ini. “Kalau kau mau kerja keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang
mudah maka ambillah itu. Itu barang halal. Ambillah sesukamu!”
Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika
pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya. Sepasang mata Raden Said terbelalak.
Dia adalah seorang pemuda sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya.
Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu
mempergunakan ilmu sihir, kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia
pasti dapat mengatasinya.
Tapi, setelah ia mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap masih menjadi
emas. Berarti orang itu tidak menggunakan sihir. Ia benar-benar merasa heran
dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang itu sehingga mampu
merubah pohon aren menjadi emas?
Selama beberapa saat Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba
memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah menjadi emas seluruhya. Ia ingin
mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak
buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda itu
terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan.
Ketika ia sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau
seperti aren-aren lainnya. Raden Said bangkit berdiri, mencari orang berjubah
putih tadi. Tapi yang dicarinya sudah tak ada di tempat.
Ucapan orang tua itu masih terngiang di telinganya. Tentang beramal dengan
barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing. Tentang
berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.
Raden Said mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk
berlari cepat akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan.
Sepertinya santai saja orang itu melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak
pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi,
demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis dia baru sampai di belakang
lelaki berjubah putih itu.
Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said
melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan, dan
sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia harus menyeberang.
“tunggu… “, ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan
kakinya lagi. “Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid…”, pintanya. “Menjadi
muridku?”, tanya orang itu. “Mau belajar apa?” “Apa saja asal
Tuan menerima saya sebagai murid…” “Berat, berat sekali anak muda,
bersediakah kau menerima syarat-syaratnya?” “Saya bersedia…”
Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said
diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki
itu kembali menemuinya. Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.
Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said
terbelalak heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan
saja. Kakinya tidak basah terkena air. Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu
adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para
wali.
Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk
bersila dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur’an yaitu
kisah Ashabul Kahfi, maka ia segera berdoa kepada Tuhan supaya ditidurkan
seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam.
Doanya dikabulkan. Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun.
Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi
sebagian besar anggota tubuhnya.
Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said.
Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan azan,
pemuda itu membuka sepasang matanya.
Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian
dibawa ke Tuban. Mengapa ke Tuban? Karena Lelaki berjubah putih itu adalah
Sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan
tingkatannya, yaitu tingkat para waliullah. Di kemudian hari Raden Said
terkenal sebagai Sunan Kalijaga.
Kalijaga artinya yang menjaga sungai. Karena dia pernah bertapa di tepi
sungai. Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan
yang hidup di masa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat,
melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar.
Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang
hanya sekedar simbol saja. Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat
atau pegangan hidup, itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama, membawa
iman sebagai penunjuk jalan kehidupan.
Raden Said kemudian disuruh menunggui tongkat atau agama di tepi sungai.
Itu artinya Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa
yang banyak mempunyai aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama
yaitu Hindu dan Budha.
Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sungai tanpa amblas ke dalam
sungai. Bahkan sedikit pun ia tak terkena percikan air sungai. Itu artinya
Sunan Bonang dapat bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa
kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri yaitu Islam.
Kerinduan Seorang Ibu
Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati
Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban
menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil. Hati
ibu Raden Said seketika berguncang.
Kebetulan saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, kepala perampok itu
mengenakan pakaian dan topeng yang persis dikenakan Raden Said. Rahasia yang
selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu
tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.
Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal
mengusir anak yang sangat disayanginya itu. Sang Ibu tak pernah tahu bahwa anak
yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban. Hanya
saja tidak langsung ke Istana Kadipaten Tuban, melainkan ke tempat tinggal
Sunan Bonang.
Untuk mengobati kerinduan sang Ibu. Tidak jarang Raden Said mengerahkan
ilmunya yang tinggi. Yaitu membaca Qur’an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim
ke istana Tuban.
Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding
istana Kadipaten. Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan isterinya.
Tapi Raden Said, masih belum menampakkan diri. Banyak tugas yang masih
dikerjakannya. Diantaranya menemukan adiknya kembali. Pada akhirnya, dia
kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan. Tak terkirakan betapa
bahagianya Adipati Tuban dan isterinya menerima kedatangan putra-putri yang
sangat dicintainya itu.
Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, akhirnya
kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putra Dewi
Rasawulan dan Empu Supa.
Raden Said meneruskan pengembaraannya. Berdakwah atau menyebarkan Islam di
Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah
sehingga dapat diterima dan dianggap sebagai Guru se Tanah Jawa. Dari petani,
pejabat, pedagang, bangsawan dan raja-raja dapat menerima ajaran Sunan Kalijaga
yang berciri khas Jawa namun tetap Islami. Dalam usia lanjut beliau memilih
Kadilangu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir. Hingga sekarang beliau
dimakamkan di Kadilangu, Demak. Semoga amal perjuangannya diterima di sisi
Allah. Amin.
Sunan Bayat dan Syekh
Domba (Murid Sunan Kalijaga)
Murid-murid Sunan Kalijaga banyak sekali, seperti Sunan Bayat, Sunan
Geseng, Ki Ageng Sela, Empu Supa, dan lain-lain. Di sini kami kisahkan tentang
Sunan Bayat dan Syekh Domba.
Bupati Semarang pada waktu itu bernama Ki Pandhanarang. Ia terkenal sebagai
seorang bupati yang kaya raya. Disamping sehari-harinya dikenal sebagai seorang
bupati, ia juga berbakat sebagai seorang pedagang. Nah, karena mentalnya mental
pedagang maka dia suka keluyuran keluar masuk pasar setiap pagi.
Ia pandai mengambil keuntungan dari setiap usahanya. Ia berdagang emas,
intan, permata hingga sapi, kerbau, dan kambing. Kekayaannya pada saat itu
sungguh diatas rata-rata kekayaan pejabat. Istrinya banyak, anaknya banyak dan
relasinya juga banyak sehingga kedudukannya luar biasa kuatnya. Tak ada seorang
pun yang mampu menggoyangkannya bahkan pejabat di tingkat pusat sekalipun.
Sayang ada satu sifatnya yang tak baik yaitu kikirnya setengah mati, kikir
alias bakhil alias cethil bin medhit!.
Ia mempunyai beberapa kendaraan bagus dan jempolan. Pada jaman sekarang
bisa sekelas Jaguar, Mercedes, Ferrari, ataupun BMW, namun pada saat itu adalah
seekor kuda terbaik dari Sumbawa. Nah, karena kuda dan sapinya banyak maka tiap
pagi ia membutuhkan berkarung-karung rumput segar untuk santapan kuda dan
sapinya.
Suatu ketika di musim kemarau, para pegawainya yang bertugas mencari rumput
agak terlambat menyediakan santapan kudanya. Nah, pada saat itu datanglah
seorang penjual rumput memasuki halaman rumahnya. Umumnya pada waktu itu
sepikul rumput berharga dua puluh lima ketheng. Tapi ia menawarnya dengan harga
lima belas ketheng. Anehnya tanpa berbelit-belit penjual rumput itu
memberikannya begitu saja.
Esoknya penjual rumput bercaping lebar itu datang lagi. Kali ini ia datang
lebih pagi dengan membawa rumput yang lebih segar dari kemarin. Bertanya Ki
Pandhanarang,”Pak Tua, sepagi ini kau sudah membawa rumput sesegar ini.
Darimana kau memperolehnya?”. “Dari Gunung Jabalkat, Tuan…”, jawab
si penjual rumput.
Ki Pandhanarang merasa heran, sebab Gunung Jabalkat adalah tempat yang
sangat jauh sekali. Setelah rumput itu dibayar seperti harga kemarin orang itu
tidak segera beranjak pergi.
“Hei Pak Tua, apalagi yang kau tunggu?”. “Hamba ingin minta
sedekah Tuan”. Ki Pandhanarang merogoh sakunya, tanpa menoleh ia lemparkan
seketheng di hadapan kaki si penjual rumput lalu ia beranjak pergi. Tapi si
penjual rumput buru-buru maju menghadang. “Hamba tidak minta sedekah uang,
yang hamba minta adalah bedhug berbunyi di Semarang”.
Ki Pandhanarang mendelik penasaran. Minta bedhug berbunyi di Semarang? Itu
sama halnya dengan permintaan mendirikan Masjid, dan menyebarkan agama Islam di
Semarang. Ah, jangankan berdakwah wong shalat lima waktu saja sudah enggan
melaksanakannya.
“Kau jangan minta yang aneh-aneh Pak Tua. Sudah ambil uang itu dan cepat
pergi dari sini”. “Hamba tidak butuh uang. Dapatkah uang dan harta
menjamin keselamatan kita di akhirat kelak?”. Ki Pandhanarang merah
wajahnya pertanda marah. “Hai Pak Tua! Jangan menyepelekan uang dan harta.
Dengan uang dan harta itulah seseorang terangkat derajatnya dan dihormati semua
orang”.
Dengan beraninya penjual rumput itu berkata,”Hamba kira tidak! Justru
orang yang menjadi budak uang dan harta akan menjadi orang yang hina dina dan
tidak berbudi pekerti karena terbiasa menghalalkan segala cara!”
“Pak tua! Bicaramu makin tak karuan, apakah dengan pekerjaanmu sebagai
penjual rumput itu kau merasa mulia. Apakah segala kebutuhan hidupmu, anak
istrimu tercukupi?”
“Soal harta dan kebutuhan hidup hamba selalu ikhlas terhadap apa yang
diberikan Tuhan. Kalau Cuma menginginkan emas permata, sekali cangkul hamba
bisa setiap saat mengeruknya dari dalam tanah”
“huh! Omonganmu semakin sombong saja pak Tua! Coba buktikan omong
besarmu itu! Jika memang terbukti aku akan berguru kepadamu, namun jika kau
hanya berkoar atau main sulap maka kau akan kuhukum dengan hukuman
seberat-beratnya!”
Ki Pandhanarang lalu menyuruh pembantunya mengambil cangkul dan diberikan
kepada si penjual rumput. “Hayo! Buktikan ucapanmu!”
Dengan tenang penjual rumput itu menerima cangkul. Lalu diayunkannya pelan,
dan ketika ditarik dari dalam tanah keluarlah bongkahan emas permata. Semua
orang terbelalak takjub melihat kejadian itu. Ki Pandhanarang yang mata duitan
itu berdiri terpaku di tempatnya sampai-sampai ia tak menyadari lelaki penjual
rumput itu sudah pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Ki Pandhanarang baru sadar bahwa ia berhadapan dengan orang berilmu tinggi.
Maka segera dikejarnya kemana orang itu pergi. Sebagai seorang lelaki ia ingin
memenuhi janjinya untuk berguru kepada si penjual rumput. Setelah mengerahkan
segenap tenaganya barulah is berhasil menyusul lelaki penjual rumput itu.
“Buat apa kau menyusulku? Masih kurangkah bongkahan emas permata tadi
bagimu?” tegur si penual rumput itu. “Bukan, bukan untuk itu saya kemari”.
“Lalu apa maumu?” “Saya ingin berguru kepada Tuan” “Berguru?
Mau berguru apa, menimbun uang dan harta?”. “Bukan! Saya ingin
memperdalam agama Islam sehingga nantinya dapat saya gunakan untuk membimbing
rakyat Semarang”. “Jadi kau mau memenuhi permintaanku untuk membunyikan
bedhug di Semarang?”. “Benar Tuan!”. “Berkorban dengan segala
harta dan jiwa?”. “Saya bersedia…”. “Kalau begitu kau harus
menjalankan ibadah selama hidupmu, jangan sampai teledor menegakkan shalat lima
waktu. Kau harus beramal, dirikan masjid dan memberikan hartamu kepada para
fakir miskin dan orang-orang yang berhak menerimanya. Jangan sekali-kali kau
terpikat oleh harta kecuali hanya sekedarnya saja sebagai bekal ibadah. Orang
berguru itu harus meninggalkan rumah, maka jika segala hal yang kupesan tadi
sudah kau laksanakan segeralah kau susul aku ke Gunung Jabalkat”.
“Wahai Tuan yang arif dan bijaksana. Ijinkanlah saya mengetahui siapakah
gerangan Tuan ini sesungguhnya?” “Aku adalah Sunan Kalijaga yang
diperintah para dewan wali untuk mengajakmu bergabung sebagai anggota
Walisongo, menggantikan Syekh Siti Jenar yang telah dihukum mati”.
Mendengar nama besar Sunan Kalijaga serta merta Ki Pandhanarang berlutut
untuk menghormat, namun seketika itu juga Sunan Kalijaga lenyap dari pandangan
matanya.
Ki Pandhanarang pulang ke rumahnya. Kini ia berubah total. Dulu pelit
sekarang menjadi dermawan sekali. Suka bersedekah. Ia juga yang memprakarsai
dan menanggung biaya untuk pembangunan masjid di Semarang. Ia juga yang memilih
kayu terbaik beserta kulit sapi yang sangat bagus untuk digunakan sebagai
bedhug.
Ia membayar zakat sebagaimana keharusannya setiap muslim yang diwajibkan.
Ia menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Semua itu dilakukan dengan ikhlas
karena Allah. Bukan sekedar untuk publikasi agar namanya terkenal. Setelah tiba
saatnya ia bermaksud menyusul Sunan Kalijaga di Gunung Jabalkat.
Salah seorang dari istrinya memaksa hendak ikut ke Gunung Jabalkat
mendampingi dirinya. “Baiklah, kau boleh ikut tapi jangan membawa harta.
Itulah pesan guruku, harta hanya menjadi penghalang bagi tujuan luhur cita-cita
kita”.
Keduanya lalu berpakaian serba putih. Keduanya berjalan kaki ke Gunung
Jabalkat. Ki Pandhanarang berjalan di muka dengan membawa tongkat biasa.
Istrinya berjalan di belakang dengan membawa tongkat bambu yang di dalam
lubangnya diisi dengan emas dan permata.
Ki Pandhanarang yang berjalan di depan dicegat kawanan rampok, namun karena
ia tidak membawa harta ia segera dilepaskan begitu saja. Sebaliknya, Nyai
Pandhanarang dicegat tiga perampok. Tongkatnya dirampas, isinya dikeluarkan dan
dijadikan rebutan. Tiga perampok itu bersorak kegirangan setelah mendapat emas
dan permata milik Nyai Pandhanarang. Sementara Nyai Pandhanarang menangis
tersedu-sedu. Ia berteriak-teriak memanggil suaminya yang berjalan jauh di
depan.
“Kakangmas…! Apakah kau sudah lupa pada istrimu? Ini ada orang tiga
berbuat salah”. Konon karena peristiwa itulah, kini tempat kejadian itu
dinamakan SALATIGA.
Akhirnya Nyai Pandhanarang dapat menyusul suaminya. Suaminya tidak kaget
mendengar penuturan istrinya karena ia sudah tahu bahwa sejak berangkat dari
rumah, istrinya memang membawa emas dan permata. “Itulah, kau tidak mematuhi
saran guruku. Harta hanya menjadi penghalang tujuan luhur kita. Sekarang kau
berjalanlah di muka”.
Nyai Pandhanarang kemudian berjalan di muka. Tidak berapa lama kemudian Ki
Pandhanarang dicegat seorang perampok yang dikenal sebagai Ki Sambangdalan. “Serahkan
hartamu atau kau akan kuhajar hingga babak belur!?”, demikian ancam Ki
Sambangdalan. “Aku tidak membawa harta!” jawab Ki Pandhanarang. Perampok
itu tidak percaya, kemudian ia merampas tongkat Ki Pandhanarang. Tentu saja
tongkat itu tidak ada emasnya karena hanya terbuat dari kayu biasa. “Dimana
kau sembunyikan hartamu?” hardik Ki Sambangdalan. “Aku tidak membawa
harta!”, jawab Ki Pandhanarang sambil terus melangkah. Anehnya Ki
Sambangdalan membiarkan saja korbannya berjalan. Ia hanya berani mengancam saja
tapi tidak berani memukuli Ki Pandhanarang.
Ki Sambangdalan terus mengikuti kemana Ki Pandhanarang berjalan sambil
terus mengeluarkan ancaman. Lama-lama Ki Pandhanarang bosan dan risih mendengar
ancaman Ki Sambangdalan. Maka ia berkata,”Kau ini bengal, keras kepala
seperti domba saja!”
Aneh, seketika kepala Ki Sambangdalan berubah menjadi kepala seekor domba
atau kambing. Tapi ia tidak menyadarinya. Ia terus mengukuti kemana Ki
Pandhanarang pergi. Suatu ketika keduanya sampai di tepi sungai. Melihat air Ki
Sambangdalan merasa risih, ia takut terkena basah, lalu ia melihat bayangannya
sendiri di air jernih maka menjeritlah ia. “Waduuuuhhh! Ampuuuuuuun, mengapa
kepalaku berubah menjadi domba??”. “Itu karena kesalahanmu sendiri”,
ujar Ki Pandhanarang. “Kembalikan ujud kepalaku seperti semula…”, pinta
Ki Sambangdalan. Ki Pandhanarang tidak menjawab. Ki Sambangdalan menjadi takut,
maka ia terus ikut kemanapun Ki Pandhanarang pergi. Perjalanan pun sampai di
tempat tujuan, yaitu Gunung Jabalkat. Tapi pada saat itu Sunan Kalijaga sedang
berdakwah ke luar daerah. Ki Pandhanarang berujar bahwa jika Ki Sambangdalan
ingin menjadi manusia normal kembali, maka ia harus bertirakat dan bertobat.
Untuk menebus dosanya Ki Sambangdalan harus mengisi jun (padasan) dengan air
dibawah bukit. Jun itu tidak tertutup sehingga apabila Ki Sambangdalan sampai
di atas bukit airnya sudah habis. Tapi karena ingin kepalanya kembali seperti
semula maka ia tidak putus asa, tiap hari dilakukannya pekerjaan itu sambil
beristighfar, tobat minta ampun kepada Tuhan.
Pada suatu hari Sunan Kalijaga datang ke tempat itu. Mereka bertiga segera
duduk bersimpuh. Secara ajaib kepala Ki Sambangdalan kembali seperti ke ujud
semula. Jun tempat wudhu tiba-tiba penuh dengan air tanpa ada yang mengisinya.
Ketiga orang itu akhirnya belajar dengan tekun ilmu syariat dan hakikat agama
Islam atas bimbingan Sunan Kalijaga yang diberi gelar Guru se-Tanah Jawa.
Akhirnya mereka dapat mencapai tataran yang tinggi berkat ketekunan dan
kesabarannya. Ki Pandhanarang menjadi seorang wali dan disebut dengan gelar
Sunan Bayat karena menyebarkan agama Islam di daerah Bayat. Sementara Ki
Sambangdalan juga menjadi seorang wali dan disebut sebagai Syekh Domba karena
kepalanya pernah menjadi domba.
Sunan Kalijaga memang sengaja menyadarkan Bupati Semarang tersebut untuk
menjadi pengganti Syekh Siti Jenar yang telah dihukum mati karena
dianggap sesat dan berlawanan dengan ajaran Walisongo. Setelah menjadi wali Ki
Pandhanarang atau Sunan Bayat mempunyai beberapa karomah, diantaranya adalah
pada suatu ketika ia menyamar sebagai pelayan tukang pembuat kue srabi. Ikut
berdagang ke pasar sambil membawakan kayu bakar. Pada suatu hari pasar sangat
ramai banyak orang membeli kue srabi, karena laris kayunya habis. Majikannya
marah-marah karena Sunan Bayat tidak membawa kayu yang banyak sehingga tidak
cukup digunakan melayani para pembeli.
“Kau teledor! Sekarang bagaimana? Apakah tanganmu itu dapat kau gunakan
sebagai pengganti kayu bakar?”, hardik si majikan.
Tanpa pikir panjang lagi Sunan Bayat memasukkan tangannya ke dalam tungku
dapur dan tangan itu menyala-nyala mengeluarkan api. Gemparlah hari itu. Banyak
orang melihat dengan kepala mata mereka sendiri, tangan Sunan Bayat yang masuk
ke dalam tungku itu mengeluarkan api. Dan banyak pula orang yang membeli kue
srabi.
Setelah tahu bahwa pelayannya adalah Sunan Bayat mantan bupati Semarang
maka penjual kue srabi itu minta ampun berkali-kali, akhirnya suami istri
penjual kue srabi itu menjadi pengikut Sunan Bayat yang setia.
6. Sunan Kudus
Asal-usul
Menurut salah satu sumber, Sunan Kudus adalah putra Raden Usman haji
bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak Jipang
Panolan ini sebelah utara kota Blora. Di dalam Babad Tanah Jawa, disebutkan
bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Demak Bintoro yang berperang melawan
pasukan Majapahit. Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden
Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan
saling mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan
sahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh Sunan Kudus
yaitu putranya sendiri yang bernama asli Ja’far Sodiq.
Pasukan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun melalui siasat Sunan
Kalijaga, dan bantuan pusaka (persenjataan) dari Raden Patah yang dibawa dari
Palembang kedudukan Demak dan Majapahit akhirnya berimbang. Keadaan ini tentu
bukan semata-mata berkat siasat Sunan Kalijaga dan bantuan pusaka Raden
Patah, tetapi karena izin Allah, siasat itu dapat merubah keadaan peperangan
itu.
Selanjutnya melalui jalan diplomasi yang dilakukan Patih Wanasalam dan
Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin
lasykar Majapahit diajak damai dan bergabung dengan Raden Patah yang ternyata
adalah kakaknya sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya
bergabung dengan tentara Demak dan menggempur tentara Majapahit hingga ke
belahan timur. Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh pasukan Demak.
Guru-gurunya
Disamping belajar agama kepada ayahnya sendiri, Raden Ja’far Sodiq juga
belajar kepada beberapa ulama terkenal. Diantaranya kepada Kiai Telingsing, Ki
Ageng Ngerang dan Sunan Ampel.
Nama asli kiai Telingsing adalah The Ling Sing, beliau adalah seorang ulama
dari negeri Cina yang datang ke pulau Jawa bersama Laksamana Jenderal Cheng
Hoo. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah. Jenderal Cheng Hoo yang beragama
Islam itu datang ke Pulau Jawa untuk menjalin tali persahabatan dan menyebarkan
agama Islam melalui perdagangan.Di Jawa, The Ling Sing cukup dipanggil dengan sebutan
Telingsing, beliau tinggal di sebuah daerah subur yang terletak di antara
sungai Tanggulangin dan Sungai Juwana sebelah timur. Di sana beliau bukan hanya
mengajar agama Islam, melainkan juga mengajarkan kepada para penduduk seni ukir
yang indah.
Banyak yang datang berguru seni ukir kepada Kiai Telingsing, termasuk Raden
Ja’far Sodiq itu sendiri. Dengan belajar kepada ulama yang berasal dari Cina
itu, Ja’far Sodiq mewarisi bagian dari sifat positif masyarakat Cina yaitu
ketekunan dan kedisiplinan dalam mengejar atau mencapai cita-cita. Hal ini
berpengaruh besar bagi kehidupan dakwah Raden Ja’far Sodiq di masa selanjutnya
yaitu tatkala menghadapi masyarakat yang kebanyakan masih beragama Hindu
dan Budha.
Selanjutnya, Raden Ja’far Sodiq juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya
selama beberapa tahun.
CARA BERDAKWAH YANG
LUWES
A. Strategi Pendekatan Kepada Massa
Sunan Kudus termasuk pendukung gagasan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang
menerapkan strategi dakwah kepada masyarakat sebagai berikut:
- Membiarkan dulu adat istiadat dan kepercayaan lama yang sukar diubah.
Mereka sepakat untuk tidak mempergunakan jalan kekerasan atau radikal
menghadapi masyarakat yang demikian.
- Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dirubah
maka segera dihilangkan.
- Tut Wuri Handayani, artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan
dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi
sedikit dan menerapkan prinsip Tut Wuri Hangiseni, artinya mengikuti dari
belakang sambil mengisi ajaran agama Islam.
- Menghindarkan konfrontasi secara langsung atau secara keras di dalam
cara menyiarkan agama Islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi
tidak mengeruhkan airnya.
- Pada akhirnya boleh saja merubah dan kepercayaan masyarakat yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau
masyarakat dari umat Islam. Kalangan umat Islam yang sudah tebal imannya
harus berusaha menarik simpati masyarakat non muslim agar mau mendekat dan
tertarik pada ajaran Islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali
melaksanakan ajaran Islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali
melaksanakan ajaran Islam secara konsekuen. Sebab dengan melaksanakan
ajaran Islam secara lengkap otomatis tingkah laku dan gerak gerik mereka
sudah merupakan dakwah nyata yang dapat memikat masyarakat non muslim.
Strategi dakwah ini diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan
Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Karena siasat mereka dalam berdakwah
tak sama dengan garis yang ditetapkan oleh Sunan Ampel maka mereka disebut Kaum
Abangan atau Aliran Tuban. Sedang pendapat Sunan Ampel yang didukung Sunan Giri
dan Sunan Drajad disebut Kaum Putihan atau Aliran Giri.
Namun atas inisiatif Sunan Kalijaga, kedua pendapat yang berbeda itu pada
akhirnya dapat dikompromosikan.
B. Merangkul Masyarakat
Hindu
Di Kudus pada waktu itu penduduknya masih banyak yang beragama Hindu dan
Budha. Untuk mengajak mereka masuk Islam tentu bukannya pekerjaan mudah.
Terlebih mereka yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh adat
istiadat lama, jumlahnya tidak sedikit. Didalam masyarakat seperti itulah
Ja’far Sodiq harus berjuang menegakkan agama.
Pada suatu hari Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq membeli seekor sapi (dalam
riwayat lain disebut Kebo Gumarang). Sapi tersebut berasal dari Hindia, dibawa
para pedagang asing dengan kapal besar. Sapi itu ditambatkan di halaman rumah
Sunan Kudus.
Rakyat Kudus yang kebanyakan beragama Hindu itu tergerak hatinya, ingin
tahu apa yang akan dilakukan oleh Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam
pandangan agama Hindu adalah hewan suci yang menjadi kendaraan para Dewa.
Menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para Dewa. Lalu apa yang
akan dilakukan Sunan Kudus?
Apakah Sunan Kudus hendak menyembelih sapi di hadapan masyarakat yang kebanyakan
justru memujanya dan menganggap binatang keramat. Itu berarti Sunan Kudus akan
melukai hati rakyatnya sendiri.
Dalam tempo singkat halaman rumah Sunan Kudus dibanjiri rakyat, baik yang
beragama Islam maupun Budha dan Hindu. Setelah jumlah penduduk yang datang
bertambah banyak, Sunan Kudus keluar dari dalam rumahnya.
“Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai”, Sunan Kudus membuka
suara. “Saya melarang sauadara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi.
Sebab di waktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya,
hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya”.
Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum kagum. Mereka
menyangka Raden Ja’far Sodiq itu adalah titisan Dewa Wisnu, maka mereka
bersedia mendengarkan ceramahnya. “Demi rasa hormat saya kepada jenis hewan
yang telah menolong saya, maka dengan ini saya melarang penduduk Kudus
menyakiti atau menyembelih Sapi!”
Kontan para penduduk terpesona atas kisah itu. Sunan Kudus melanjutkan,”Salah
satu di antara surat-surat di dalam Al Qur’an yaitu surat kedua dinamakan Surat
Sapi atau dalam bahasa Arabnya Al-Baqarah”, kata Sunan Kudus.
Masyarakat makin tertarik. Kok ada Sapi di dalam Al Qur’an, mereka jadi
ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang
mendengarkan keterangan Sunan Kudus.
Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil didapatkan akan lapanglah jalan
untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam.
Bentuk Masjid yang dibuat Sunan Kudus pun juga tak jauh bedanya dengan
candi-candi milik orang Hindu. Lihatlah Menara Kudus yang antik itu, yang
hingga sekarang dikagumi orang di seluruh dunia karena keanehannya. Dengan
bentuknya yang mirip candi itu orang-orang Hindu merasa akrab dan tidak merasa
takut atau segan masuk ke dalam masjid guna mendengarkan ceramah Sunan Kudus.
C. Merangkul Masyarakat
Budha
Sesudah berhasil menarik umat Hindu ke dalam agama Islam hanya karena sikap
toleransinya yang tinggi, yaitu menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu
dan membangun menara masjid mirip candi Hindu. Kini Sunan Kudus bermaksud
menjaring umat Budha. Caranya? Memang tidak mudah, harus kreatif dan bersifat
tidak memaksa.
Sesudah masjid berdiri, Sunan Kudus membuat padasan atau tempat berwudhu dengan
pancuran yang berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca Kepala Kebo
Gumarang di atasnya. Hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha “Jalan berlipat
delapan” atau “Asta Sanghika Marga”, yaitu:
1. Harus memiliki
pengetahuan yang benar.
2. Mengambil keputusan yang benar.
3. Berkata yang benar.
4. Hidup dengan cara yang benar.
5. Bekerja dengan benar.
6. Beribadah dengan benar.
7. Dan menghayati agama dengan benar.
Usahanya itupun membuahkan hasil, banyak umat Budha yang penasaran, untuk
apa Sunan Kudus memasang lambang wasiat Budha itu di padasan atau tempat
berwudhu. Sehingga mereka berdatangan ke masjid untuk mendengarkan keterangan
Sunan Kudus.
D. Selamatan Mitoni
Di dalam cerita tutur disebutkan bahwa Sunan Kudus itu pada suatu ketika
gagal mengumpulkan rakyat yang masih berpegang teguh pada adat istiadat lama.
Seperti diketahui, rakyat Jawa yang melakukan adat istiadat yang aneh, yang
kadangkala bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya berkirim sesaji di
kuburan untuk menunjukkan belasungkawa atau berduka cita atas meninggalnya
salah seorang anggota keluarga, selamatan neloni, mitoni, dan lain-lain. Sunan
Kudus sangat memperhatikan upacara-upacara ritual itu, dan berusaha
sebaik-baiknya untuk merubah atau mengarahkannya dalam bentuk Islami. Hal ini
dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.
Contohnya, bila seorang istri orang Jawa hamil tiga bulan maka akan
dilakukanlah acara selamatan yang disebut mitoni sembari minta kepada dewa
bahwa bila anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna, jika anakanya perempuan
supaya cantik seperti Dewi Ratih.
Adat tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus. Melainkan
diarahkan dalam bentuk Islami. Acara selamatan boleh terus dilakukan tapi
niatnya bukan sekedar kirim sesaji kepada para dewa, melainkan bersedekah
kepada penduduk setempat dan sesaji yang dihidangkan boleh dibawa pulang.
Sedang permintaannya langsung kepada Allah dengan harapan bila anaknya lahir
laki-laki akan berwajah tampan seperti Nabi Yusuf, dan bila perempuan seperti
Siti Mariam ibunda Nabi Isa a.s. Untuk itu sang ayah dan ibu perlu
sering-sering membaca surat Yusuf dan surat Mariam dalam Al Qur’an.
Sebelaum acara selamatan dilaksanakan diadakanlah pembacaan Layang Ambiya’
atau sejarah para Nabi. Biasanya yang dibaca adalah bab Nabi Yusuf. Hingga
sekarang acara pembacaan Layang Ambiya’ yang berbentuk tembang Asmaradana,
Pucung, dan lain-lain itu masih hidup di kalangan masyarakat pedesaan.
Berbeda dengan cara lama, pihak tuan rumah membuat sesaji dari berbagai
jenis makanan, kemudian diikrarkan (dihajatkan) oleh sang dukun atau tetua
masyarakat dan setelah upacara sakral itu dilakukan sesajinya tidak boleh
dimakan melainkan diletakkan di candi, di kuburan atau di tempat-tempat sunyi
di lingkungan tuan rumah.
Ketika pertama kali melaksanakan gagasannya, Sunan Kudus pernah gagal,
yaitu beliau mengundang seluruh masyarakat, baik yang Islam maupun yang Hindu
dan Budha ke dalam Masjid. Dalam undangan disebutkan hajat Sunan Kudus yang
hendak mitoni dan bersedekah atas hamilnya sang istri selama tiga bulan.
Sebelum masuk masjid, rakyat harus membasuh kaki dan tangannya di kolam
yang sudah disediakan. Dikarenakan harus membasuh tangan dan kaki inilah banyak
rakyat yang tidak mau, terutama dari kalangan Budha dan Hindu. Inilah kesalahan
Sunan Kudus. Beliau terlalu mementingkan pengenalan syariat berwudhu kepada
masyarakat tapi akibatnya masyarakat malah menjauh. Apa sebabnya? Karena iman
mereka atau tauhid mereka belum terbina.
Maka pada kesempatan lain, Sunan Kudus mengundang masyarakat lagi. Kali ini
masyarakat tidak usah membasuh tangan dan kainya waktu masuk masjid, hasilnya
sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya. Di saat
itulah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama Islam secara halus dan
menyenangkan rakyat. Caranya menyampaikan materi dengan cukup cerdik, yaitu
ketika rakyat tengah memusatkan perhatiannya kepada keterangan Sunan Kudus
tetapi karena waktu sudah terlalu lama, dan dikawatirkan mereka jenuh maka
Sunan Kudus mengakhiri ceramahnya.
Cara tersebut kadang mengecewakan, tapi disitulah letak segi positifnya,
yaitu rakyat jadi ingin tahu kelanjutan ceramahnya. Dan pada kesempatan lain
mereka datang lagi ke Masjid, baik dengan undangan maupun tidak, karena rasa
ingin tahu itu demikian besar mereka tak peduli lagi pada syarat yang diajukan
Sunan Kudus yaitu membasuh kaki dan tangannya lebih dahulu, yang lama-lama
menjadi kebiasaan untuk berwudhu.
Dengan demikian Sunan Kudus berhasil menebus kesalahannya di masa lalu.
Rakyat tetap menaruh simpati dan menghormatinya. Cara-cara yang ditempuh untuk
mengislamkan masyarakat cukup banyak. Baik secara langsung melalui ceramah
agama maupun adu kesaktian dan melalui kesenian, beliaulah yang pertama kali
menciptakan tembang Mijil dan Maskumambang. Di dalam tembang-tembang tersebut
beliau sisipkan ajaran-ajaran agama Islam.
4. SUNAN KUDUS DI
NEGERI MEKAH
Di dalam legenda dikisahkan bahwa Raden Jakfar Sodiq itu suka mengembara,
baik ke Tanah Hindustan maupun ke Tanah Suci Mekah.
Sewaktu berada di Mekah beliau menunaikan ibadah haji. Dan kebetulan di
sana ada wabah penyakit yang sukar diatasi. Penguasa negeri Arab mengadakan
sayembara, siapa yang berhasil melenyapkan wabah penyakit itu akan diberi
hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.
Sudah banyak orang mencoba tak pernah berhasil. Pada suatu hari Sunan Kudus
atau Ja’far Sodiq mengahadap penguasa negeri itu tapi kedatangannya disambut
dengan sinis.
“Dengan apa tuan melenyapkan wabah penyakit itu?” tanya sang Amir. “Dengan
doa”, jawab Ja’far Sodiq singkat. “Kalau hanya doa kami sudah puluhan
kali melakukannya. Tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah penyakit ini”
“Saya mengerti, memang Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan
lupa ada saja kekurangannya sehingga doa mereka tidak terkabulkan”, kata Jakfar Sodiq.
“Hem, sungguh berani tuan berkata demikian”, kata Amir itu dengan
nada berang. “Apa kekurangan mereka?”. “Anda sendiri yang menyebabkannya”,
kata Jakfar Sodiq dengan tenangnya. “Anda telah menjanjikan hadiah yang
menggelapkan mata hati mereka sehingga doa mereka tidak ikhlas. Mereka berdoa
hanya karena mengharap hadiah”. Sang Amir pun terbungkam atas jawaban itu.
Jakfar Sodiq lalu dipersilakan melaksanakan niatnya. Kesempatan itu tidak
disia-siakan. Secara khusus Jakfar Sodiq berdoa dan membaca beberapa amalan.
Dalam tempo singkat wabah penyakit mengganas di negeri Arab telah menyingkir.
Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras secara mendadak langsung
sembuh. Bukan main senangnya hati sang Amir. Rasa kagum mulai menjalari
hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikannya kepada Jakfar Sodiq.
Tapi Jakfar Sodiq menolaknya, dia hanya minta sebuah batu yang berasal dari
Baitul Maqdis. Sang Amir mengijinkannya. Batu itu pun dibawa ke tanah Jawa,
dipasang di pengimaman masjid Kudus yang didirikannya sekembali dari Tanah
Suci.
Rakyat kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang beragama Hindu dan
Budha. Para Wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas
berdakwah di kota itu. Pada akhirnya Jakfar Sodiq yang bertugas di daerah itu.
Karena Masjid yang dibangunnya dinamakan Kudus maka Raden Jakfar Sodiq pada
akhirnya disebut Sunan Kudus.
5. TUGAS SEBAGAI
SENOPATI
Malam hitam pekat, udara musim kemarau terasa sangat dingin menusuk tulang.
Penduduk desa Pengging yang terletak di tepi hutan, malam itu tak dapat tidur,
sebab malam itu terdengar auman harimau sambung-menyambung, terus menerus. Para
penduduk berjaga-jaga, kalau-kalau malam itu harimau yang mengaum itu akan
masuk ke desa dan memangsa hewan ternak mereka.
Tapi sampai pagi tidak ada seekor harimau tampak masuk kampung. Para
penduduk penasaran. Mereka beramai-ramai masuk ke dalam hutan untuk memeriksa,
apakah benar di dalam hutan yang sudah mereka kenal selama ini ada harimaunya.
Dengan senjata siap di tangan mereka siap menghadapi segala kemungkinan. Di
tengah hutan, bukan harimau yang mereka dapatkan, melainkan tujuh orang santri
dan seorang berjubah putih yang tampak agung berwibawa. “Apakah tuan melihat
harimau di sekitar hutan ini?” tanya tetua desa. “Tidak”, jawab
lelaki berjubah putih itu. “Semalam kami tidur di hutan ini tapi tidak
melihat seekor harimau pun”. “Aneh, semalaman kami tak dapat tidur
karena auman suara harimau yang terus menerus”, gunam tetua desa. “Kalau
begitu namakanlah tempat ini desa Sima. Karena kau mendengar suara Sima
(harimau) padahal tak ada Sima”, kata lelaki berjubah putih.
Tetua desa itu menurut, hingga sekarang tempat lelaki berjubah putih
bermalam itu dinamakan desa Sima. Lelaki berjubah putih itu kemudian meneruskan
perjalanannya ke Pengging untuk menemui Adipati Kebo Kenanga atau lebih dikenal
sebagai Ki Ageng Pengging.
Pagi itu udara masih terasa menggigit tulang. Seiring dengan langkah lelaki
berjubah putih dan tujuh orang pengikutnya yang makin mendekati ujung desa
Pengging tiba-tiba di udara nampak dua ekor gagak terbang sambil mengeluarkan
suara khasnya.
Adanya suara burung gagak adalah lambang kematian, berarti akan ada sosok
manusia yang dicabut nyawanya oleh Sang Malaikat Maut. Siapakah orang yang
bakal mati hari ini? Siapa pula orang berjubah putih yang nampak agung dan
berwibawa itu? Mengapa tujuh orang santri terus mengikutinya dari belakang? Apa
tujuan mereka ke desa Pengging? Pengging atau Pajang pada beberapa tahun silam
bukanlah sebuah desa terpencil. Pengging adalah sebuah Kadipaten yang sangat
terkenal karena Adipati Handayaningrat yang memimpin adalah Putra Prabu
Brawijaya Penguasa Majapahit.
Adipati Handayaningrat mempunyai dua orang putra lelaki. Yang pertama
bernama Kebo Kanigara, yang kedua Kebo Kenanga. Ketika sang Adipati meninggal
dunia, Kebo Kanigara mengembara tak ketahuan rimbanya. Sedang Kebo Kenanga
masuk Islam menjadi murid Syekh Siti Jenar. Tenggelam dalam alur faham Siti
Jenar sehingga pikirannya berubah. Tak mau mengurus lagi Kadipaten warisan
orang tuanya. Ia malah mengajak rakyatnya untuk hidup wajar sebagai petani
biasa.
Sungguh mengagumkan. Hasil panen para petani Pengging kemudian tersebar ke
penjuru desa lainnya. Bahkan menggetarkan dinding-dinding istana Demak Bintoro,
karena Ki Ageng Pengging tak pernah sowan menghadap Sri Sultan. Dan tentu saja
tak pernah menyerahkan upeti pertanda setia dan tetap tunduk kepada Demak
Bintoro.
Karena itu Raden Patah segera mengutus dua perwira utama untuk menengok Ki
Ageng Pengging. “Ki Ageng”, kata utusan itu setelah tiba di hadapannya. “Sudah
dua tahun Andika tidak menghadap Gusti Sultan Demak. Kami diperintahkan
mengingatkan Andika, sebab Gusti Sultan sudah sangat merindukan kehadiran
Andika selaku saudaranya”.
Ki ageng Pengging menatap dua orang utusan itu dengan tajam. “Buat apa
seorang petani desa menghadap Sri Sultan? Hanya bikin malu Sri Sultan saja. Hai
utusan kembali-lah dan katakan kepada Sri Sultan aku tak dapat memenuhi
panggilannya. Mohonkan ampun atas sikapku ini”.
Dua orang utusan itu segera kembali ke istana Demak. Tak berapa lama
kemudian Ki Ageng Pengging memanggil dalang wayang beber. Selepas shalat Isya’
dalang pun segera memainkan lakon wayangnya. Penduduk berduyun-duyun
menyaksikan pertunjukan gratis itu.
Ketika hampir muncul fajar sidik di ufuk timur. Tiba-tiba istri Ki Ageng
Pengging menggerang kesakitan. Ia merasa si jabang bayi akan segera lahir. Ki
Ageng Pengging segera memerintahkan Ki Dalang untuk mengakhiri pertunjukannya.
Orang-orang pun segera sibuk menolong istri Ki Ageng Pengging. Ternyata yang
lahir adalah laki-laki yang elok rupanya.
Ki Ageng Tingkir berkata kepada adik seperguruannya. “Adimas, karena
anakmu lahir bertepatan dengan pagelaran wayang beber maka anakmu kuberi nama
Karebet”.
“Terima kasih atas kesediaan memberi nama anak ini”, ujar Ki Ageng Pengging.
“Mudah-mudahan dia dapat meniru kegagahan dan watak satria Kakang”. Ki
Ageng Tingkir turut bergembira atas kelahiran putra adik seperguruannya itu.
Selama tiga hari ia menunggui kelahiran bayi itu di Pengging. Sementara itu,
Raden Patah mengatur siasat. Dua orang utusannya telah gagal memanggil Ki Ageng
Pengging. Sekarang dia mengutus Ki Wanapala untuk memanggil Ki Ageng Pengging.
Ki Wanapala adalah bekas Mahapatih Demak Bintoro yang sudah mengundurkan
diri. Kedudukannya telah digantikan anaknya sendiri. Namun ia masih sering
datang ke istana Demak jika diperlukan Raden Patah untuk dimintai pertimbangan.
Namun patih senior ini juga tak mampu menjinakkan sikap Ki Ageng Pengging,
ia pulang dengan tangan hampa.
Ki Wanapala tak berpanjang kata. Ia segera kembali ke Demak. Melaporkan
segala apa yang didengarnya. Sri Sultan setuju atas keputusan Ki Wanapala
memberi tenggang waktu selama tiga tahun.
Namun ketika tiga tahun lewat Ki Ageng belum menghadap ke Demak juga. Atas
nasehat para Wali, maka Sri Sultan mengirim utusan ketiga. Yang ditugaskan kali
ini adalah Sunan Kudus. Tugas kali ini harus tuntas. Karena Sunan Kudus yang
terkenal memiliki ilmu logika tinggi dan beribu ilmu kesaktian itu terpilih
menangani masalah ini. Sri Sultan tak perlu mengirim utusan keempat lagi.
Walaupun Sunan Kudus itu Panglima Perang Demak, tetapi para Wali
melarangnya menggunakan baju dan seragam militernya. Sunan Kudus disarankan
agar memakai pakian jubah putih sebab yang dihadapinya adalah seorang
santri desa.
Berangkatlah Sunan Kudus dengan iringan tujuh prajurit Demak pilihan yang
juga menyamar sebagai para santri biasa.
Tiga tahun memang telah berlalu dengan cepatnya. Ki Ageng Pengging tidak
pernah menghadap ke Demak. Bahkan Kadipaten Pengging yang dulu pernah mengalami
kejayaan di jaman ayahnya yaitu Adipati Handayaningrat tidak diurus lagi. Kebo
Kenanga, cucu Raja Majapahit itu malah tenggelam dalam dunia kebatinan yang
diajarkan oleh Syeikh Siti Jenar.
Walau tampaknya Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging itu tak mengurus
pemerintahan Kadipaten, tapi sesungguhnya para prajuritnya masih setia
kepadanya, mereka menyembunyikan keperwiraannya di balik baju petani. Tetapi
sewaktu-waktu mereka bisa digerakkan jika diperlukan oleh Ki Ageng Pengging.
Hal ini disadari oleh pemerintah pusat Demak Bintoro. Itu sebanya Sri
Sultan memilih Sunan Kudus untuk menggali sang pembangkang yaitu Ki Ageng
Pengging ini.
Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lengang. Pagi itu penduduk banyak
yang pergi ke sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten
tidak kelihatan. Di pusat bekas pemerintahan Adipati Handayaningrat itu kini
hanya ada sebuah rumah yang tak seberapa besar. Bentuknya seperti rumah
penduduk lainnya.
Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung desa.
Dia sendiri berjalan menuju rumah Ki Ageng Pengging. Langkahnya mantap. Dia
yakin tugasnya kali ini akan membawa hasil. Seperti sudah dilambangkan oleh
Bende Kyai Sima, yaitu pusaka warisan dari mertuanya yang dibunyikan di dalam
hutan saat dia kemalaman. Bila bende itu dipukul bunyinya seperti harimau maka
tandanya akan berhasil, bila tidak mengeluarkan auman harimau berarti akan
menemui kegagalan.
Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita setengah
baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud kedatangannya
untuk menemui Ki Ageng Pengging. “Maaf tuan, sudah beberapa hari Ki Ageng
mengurung diri di dalam kamarnya, beliau tidak bisa menemui tamu”, kata
pelayan itu. “Aku bukan tamu biasa”, kata Sunan Kudus. “Katakan aku
adalah utusan Tuhan yang datang dari Kudus. Ingin bertemu dengan Ki Ageng
Pengging”. Pelayan itu masuk ke dalam rumah menyampaikan pesan Sunan
Kudus yang dianggapnya aneh. Ternyata Ki Ageng bersedia menerima tamunya.
Sunan Kudus dipersilakan masuk ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging
membuatkan minuman untuk menghormati tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu
itu Ki Ageng Pengging dan Sunan Kudus.
“Wahai Ki Ageng, saya diperintah oleh Sultan Demak Bintoro. Manakah yang
kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?”, tanya Sunan Kudus. Ki
Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan
serupa oleh Ki Wanasalam, patih Demak Bintoro. “jawabanku tetap sama dengan
tiga tahun yang lalu”, kata Ki Ageng Pengging. “Atas-bawah, luar-dalam
adalah milikku. Aku tak bisa memilihnya”.
Jawaban itu bagi Sunan Kudus adalah sangat jelas. Berarti Ki Ageng Pengging
punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak Bintoro sekaligus
ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Jelasnya dia tidak mau mengakui Raden
Patah sebagai raja Demak. Ini pembangkangan namanya. Kasarnya pemberontak!
Bahwa Ki Ageng Pengging itu murid Syekh Siti Jenar, gurunya itu sudah
dihukum mati karena kesesatannya, Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng
Pengging masih meyakini ilmu dari Syeikh Siti Jenar itu atau sudah
meninggalkannya sama sekali.
“Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan mati di
dalam hidup”, kata Sunan Kudus. “Benarkah apa yang saya katakan itu? Saya ingin
melihat buktinya”.
“Memang begitu!”, jawab Ki Ageng Pengging. “Kau anggap apa saja aku ini maka aku akan
menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang aku santri, kau
anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau anggap aku ini rakyat
memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah aku memang Allah!”
Klop sudah! Ki Ageng Pengging masih memegang teguh ajaran Syekh Siti Jenar
yang berfaham Wihdatul Wujud atau berfilasafat serba Tuhan. Faham itu adalah
bertentangan dengan Islam yang disiarkan para wali, sehingga Syekh Siti Jenar
dihukum mati.
Sunan Kudus juga cerdik, dia tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu
mempunyai ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal, tak mempan senjata
apapun juga. Maka Sunan Kudus bermaksud mengorek kelemahan Ki Ageng Pengging
dengan jalan diplomasi.
“Seperti pengakuan Ki Ageng, bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya
ingin melihat buktinya”. “Jadi itukah yang dikehendaki Sulatan Demak?.
Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus membuat sebab
kematianku. Bagiku hidup dan mati tidak ada bedanya”. Ki Ageng Pengging
berhenti sejenak, menatap dalam-dalam wajah Sunan Kudus. “Tapi jangan
melibatkan orang lain. Cukup aku saja yang mati”. Sunan Kudus menyanggupi
permintaan Ki Ageng. Ki Ageng menghela nafas panjang. “Tusuklah siku
lenganku ini….!”, ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya. Sunan Kudus pun
melakukannya. Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki
Ageng Pengging.
Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan langkah tenang.
Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa. Mereka berjalan menuju Demak
Bintoro. Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan jamuan
makan menjerit keras manakala melihat suaminya mati di ruang tamu. Penduduk
sekitar berdatangan ke rumahnya. Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka
memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus.
200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin bekas Senopati Kadipaten
Pengging mencabut senjata dan berteriak-teriak memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.
Sunan Kudus berhenti. Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul
ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang Pengging
mengejar ke arah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya berada di sebelah
utara. Tidak berapa lama kemudian ribuan prajurit itu lenyap. Orang Pengging
kebingungan, tak tahu hars berbuat apa. Akal mereka seperti hilang.
Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka disadarkan
kembali dengan pengerahan ilmunya. “Jangan turut campur urusan besar ini. Ki
Ageng Pengging sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau
menghadap ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! Nah, kalian
rakyat kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini. Pulanglah!”
Suara Sunan Kudus terdengar berat dan mengandung perbawa kuat. Penduduk
Pengging itu seperti baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi adalah
seorang Senopati Demak Bintoro yang kondang mempunyai seribu satu macam
kesaktian. Mereka tak kan mampu menghadapinya.
“Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini”, kata Sunan Kudus. “Segeralah
kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah penghormatan kalian yang terakhir kepada
pemimpin kalian”
Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain. Akhirnya mereka
kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka. Sunan
Kudus dan tujuh pengikutnya segera kembali ke Demak.
Cita-cita Ki Ageng Pengging agar anak turunannya menjadi Raja ternyata
kesampaian. Anaknya yang bernama Keberet itu diambil anak angkat oleh Ki Ageng
Tingkir dan setelah dewasa bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang bakal
memindahkan pusat pemerintahan Demak ke desa Pengging atau Pajang.
7. Sunan Drajad
Asal-usul
Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putra Sunan Ampel dengan
Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu ayahnya kemudian diperintah untuk
berdakwah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara
Tuban dan Gresik.
Raden Qosim mulai perjalanannya dengan naik perahu dari Gresik sesudah
singgah di tempat Sunan Giri. Dalam perjalanan ke arah barat itu perahu beliau
tiba-tiba dihantam ombak yang besar sehingga menabrak karang dan hancur. Hampir
saja Raden Qosim kehilangan nyawa, tapi bila Tuhan belum menentukan ajal
seseorang bagaimana pun hebatnya kecelakaan pasti dia akan selamat, demikian
pula halnya dengan Raden Qosim. Secara kebetulan seekor ikan besar yaitu ikan
talang datang kepadanya. Dengan menunggang punggung ikan tersebut Raden Qosim
dapat selamat hingga ke tepi pantai.
Raden Qosim sangat bersyukur dapat lolos dari musibah itu. Beliau juga
berterima kasih kepada ikan talang yang dengan lantarannya dia selamat. (tentu
maksudnya berterima kasih kepada Allah, katrena Allah telah mengirimkan ikan
talang itu menjadi media pertolongan Allah kepadanya). Untuk itu beliau telah
berpesan kepada anak keturunannya agar jangan sampai makan daging ikan talang.
Bila pesan ini dilanggar akan mengakibatkan bencana, yaitu ditimpa penyakit yang
tiada lagi obatnya.
Ikan talang itu membawa Raden Qosim hingga ke tepi pantai yang termasuk
wilayah desa Jelag (sekarang termasuk wilayah desa Banjarwati), kecamatan
Paciran. Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat setempat dengan
antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa Raden Qosim adalah putra Sunan
Ampel seorang Wali besar dan masih terhitung kerabat keraton Majapahit.
Di desa Jelag itu Raden Qosim mendirikan Pesantren. Karena caranya
menyiarkan agama Islam yang unik maka banyaklah orang yang datang berguru
kepadanya. Setelah menetap satu tahun di desa Jelag, Raden Qosim mendapat ilham
supaya menuju ke arah selatan, kira-kira berjarak 1 kilometer, di sana beliau
mendirikan surau langgar untuk berdakwah.
Tiga tahun kemudian secara mantap beliau mendapat petunjuk agar membangun
tempat berdakwah yang strategis yaitu di tempat ketinggian yang disebut Dalem
Duwur. Di bukit yang disebut Dalem Duwur itulah yang sekarang dibangun Museum
Sunan Drajad, adapun makam Sunan Drajad terletak di sebelah barat Museum
tersebut.
Raden Qosim adalah pendukung aliran putih yang dipimpin oleh Sunan Giri.
Artinya, dalam berdakwah adalah pendukung aliran Putih yang dipimpin oleh Sunan
Giri. Artinya, dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, beliau menganut jalan
lurus, jalan yang tidak berliku-liku. Agama harus diamalkan dengan lurus dan
benar sesuai dengan ajaran Nabi. Tidak boleh dicampur baur dengan adat dan
kepercayaan lama.
Meski demikian beliau juga mempergunakan kesenian rakyat sebagai alat
dakwah. Di dalam museum yang terletak di sebelah timur makamnya terdapat
seperangkat bekas gamelan Jawa, hal itu menunjukkan betapa tinggi
penghargaan Sunan Drajad kepada kesenian Jawa.
Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut sebagai seorang Wali
yang hidupnya paling bersahaja, walau dalam urusan dunia beliau juga sangat
rajin mencari rezeki. Hal itu disebabkan sikap beliau yang dermawan. Di
kalangan rakyat jelata beliau bersifat lemah lembut dan sering menolong mereka
yang menderita.
Ajaran Sunan Drajat yang
Terkenal
Di antara ajaran beliau yang terkenal adalah sebagai berikut:
Menehono teken marang wong wuto
Menehono mangan marang wong kang luwe
Menehono busono marang wong kang wudo
Menehono ngiyup marang wong kang kudanan
Artinya kurang lebih
demikian:
Berilah tongkat kepada orang yang buta
Berilah makan kepada orang yang kelaparan
Berilah pakaian kepada orang yang telanjang
Berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan
Adapun maksudnya adalah sebagai berikut: Berilah petunjuk kepada orang
bodoh (buta). Sejahterakalah kehidupan rakyat yang miskin (kurang makan).
Ajarkanlah budi pekerti (etika) kepada orang yang tidak tahu malu atau belum
punya peradaban tinggi. Berilah perlindungan kepada orang-orang yang menderita
atau ditimpa bencana. Ajaran ini sangat supel, siapapun dapat mengamalkannya
sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing. Bahkan pemeluk agama lainpun
tidak berkeberatan untuk mengamalkannya.
Di samping terkenal sebagai seorang Wali yang berjiwa dermawan dan sosial,
beliau juga dikenal sebagai anggota Wali Songo yang turut serta mendukung
dinasti Demak. Simbol kebesaran umat Islam pada waktu itu.
Di bidang kesenian, disamping terkenal sebagai ahli ukir, beliau juga
pertama kali yang menciptakan Gending Pangkur. Hingga sekarang gending tersebut
masih disukai rakyat Jawa. Sunan Drajat, demikian gelar Raden Qosim, diberikan
kepada beliau karena beliau bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi,
seakan melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau derajat
para ulama muqarrobin. Ulama yang dekat dengan Allah swt.
8. Sunan Muria
Asal-usul
Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden
Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus,
ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang
ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.
Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama
Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Menurut Solichin Salam, sasaran
dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata.
Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan
wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang
menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
Sakti Mandraguna
Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuat
fisiknya dapat dibuktikan dengan letak Padepokannya yang terletak di atas
gunung. Menurut pengalaman penulis (Abu Khalid, MA) jarak antara kaki
undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai ke makam Sunan Muria tidak
kurang dari 750 m.
Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap
hari harus naik turun, turun naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk
setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang.
Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya
menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal
Sunan Muria. Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian
tinggi, demikian pula murid-muridnya.
Bukti bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan
dalam kisah Perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah
putri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena
ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana.
Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus
sampai-sampai berguru kepada beliau.
Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono
yang genap dua puluh tahun. Murid-muridnya diundang semua. Seperti: Sunan
Muria, Sunan Kudus. Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri. Tetangga
dekat juga diundang, demikian pula sanak kadang yang dari jauh.
Setelah tamu berkumpul Dewi Roroyono dan adiknya yaitu Dewi Roro Pujiwati
keluar menghidangkan makanan dan miniman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik
rupawan. Terutama Dewi Roroyono yang berusia dua puluh tahun, bagaikan bunga
yang sedang mekar-mekarnya.
Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat
menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi
seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi
Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu.
Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak
belum menjadi seorang Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar
kecantikannya yang mempesona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati
Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu
terus menerus.
Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi.
Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih
setelah lelaki itu bertindak kurang ajar.
Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketika lelaki itu
berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas
disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja
ditumpahkan ke pakaian sang Adipati.
Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti
itu. Apalagi dilihatnya para tamu menertawakan kekonyolannya itu, diapun
semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis
itu adalah putri gurunya.
Roroyono masuk kedalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena
dipermalukan oleh Pathak Warak.
Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang ke tempatnya masing-masing.
Tamu dari jauh terpaksa menginap di rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak
dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat
memejamkan matanya.
Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya. Mengendap-endap ke kamar
Roroyono. Gadis itu disirapnya (sirap atau sirep dikenal sebagai ilmu semacam
hipnotis), sehingga tak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak
melorot turun dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono dibawa
lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri.
Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Pathak Warak,
maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya kembali ke
Ngerang akan dijodohkan dengan putrinya itu, dan bila perempuan akan dijadikan
saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua
orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria
yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.
“Saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak”, kata Sunan Muria.
Tetapi, di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri,
adik seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir.
Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah
daerah Keling.
“Mengapa Kakang tampak tergesa-gesa?”, tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan
penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak.
Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan
yang lebih tua. Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria
merebut kembali Dewi Roroyono.
“Kakang sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid Kakang
sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami yang berusaha merebut diajeng
Roroyono kembali. Kalau berhasil Kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya
sekedar membantu”, demikian kata Kapa.
“Aku masih sanggup untuk merebutnya sendiri”, ujar Sunan Muria. “Itu
benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting,
percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali”, kata Kapa
ngotot.
Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya
tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus
menengok para santri di Padepokan Gunung Muria.
Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri
ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat yang
dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang ada tandingannya. Usaha mereka
berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.
Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui
perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan
Adipati Pathak Warak.
“Hai Pathak Warak berhenti kau!”, bentak Sunan Muria. Pathak Warak yang
sedang naik kuda terpaksa berhenti, karena Sunan Muria menghadang di depannya.
“Minggir! Jangan menghalangi jalanku!”, hardik Pathak Warak. “Boleh, asal kau
kembalikan Dewi Roroyono!” “Goblok ! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri!
Kini aku hendak mengejar mereka!”, umpat Pathak Warak. “Untuk apa kau
mengejar mereka?” “Merebutnya kembali!”, jawab Pathak Warak dengan sengit. “Kalau
begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar
Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.
Tanpa basa-basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangsak ke
arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia, bukan tandingan
putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian.
Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di
tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh,
tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.
Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut
gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara
jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria
mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono
dengan Sunan Muria. Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan.
Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar.
Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang hidupnya serba
berkecukupan.
Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Padepokan Gunung Muria.
Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan ideal.
Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi
Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh
kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita
itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak
seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang
menghujam di dada. Mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya.
Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang menikmati kebahagiaan
bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar laki-laki
diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan (kemaluan) mereka.
Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus menerus kearah wajah dan
tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak
terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.
Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad
hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat
untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh
keji rencana mereka.
Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak
melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, sehingga
terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi
Gentiri, suasana menjadi semakin panas, hingga akhirnya Gentiri tewas menemui
ajalnya di puncak Gunung Muria.
Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat
surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam
di malam hari. Tak seorang pun yang mengetahuinya.
Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang
bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap (sirep: dikenal sebagai ilmu sirep,
semacam hipnotis) murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah… yang ditugaskan
menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa
wanita impiannya itu ke pulau Seprapat.
Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud
mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang datuk di Pulau Seprapat. Ini biasa
dilakukannya karena baginya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu
dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari
Pathak Warak.
Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk
agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan
agung. Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan
ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang
pada akhirnya tertarik dan masuk Islam secara sukarela.
Ternyata, kedatangan Kapa ke Pulau Seprapat itu tidak disambut baik oleh
Wiku Lodhang datuk.
“Memalukan! Benar-benar nista perbuatanmu itu! Cepat kembalikan istri
kakang seperguruanmu sendiri itu!”, hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.
“Bapa Guru ini bagaimana, bukankah aku ini muridmu? Mengapa tidak kau
bela?” protes Kapa. “Sampai mati pun aku takkan sudi membela kebejatan budi
pekerti walau pelakunya itu muridku sendiri!”.
Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama. Tanpa mereka sadari
Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat
istrinya sedang tergolek di tanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya.
Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang
Datuk.
Begitu mengetahui kedatangan Sunan Muria, Kapa langsung melancarkan
serangan dengan jurus-jurus maut. Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju
Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa.
Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi
Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa. Ternyata, serangan
dengan pengerahan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya
sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan
lawan.
Karena Kapa mempergunakan aji pamungkas yaitu puncak kesaktian yang
dimilikinya maka ilmu itu akhirnya merenggut nyawanya sendiri.
“Maafkan saya tuan Wiku…”, ujar Sunan Muria agak menyesal. “Tidak
mengapa. Menyesal aku telah turut memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu
digunakan untuk jalan kejahatan”, gunam sang Wiku.
Bagaimana pun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya
secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke Padepokan
dan hidup berbahagia.
9. Sunan Gunung Jati
Asal-usul
Dalam usia masih muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia
ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir. Tapi anak muda
yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud
pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian
diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.
Sewaktu berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa
ulama besar di daratan Timur Tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat
banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak merasa
kesulitan melakukan dakwah.
Perjuangan Sunan
Gunungjati
Seringkali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan
Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunungjati. Orang menganggap Fatahillah
dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif
Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar agama Islam di Jawa
Barat yang kemudian disebut Sunan Gunungjati. Sedang Fatahillah adalah seorang
pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunungjati berperang
melawan penjajah Portugis. Bukti bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunungjati adalah
makam dekat Sunan Gunungjati yang ada tulisan Tubagus Pasai fathullah atau
Fatahillah atau Faletehan menurut lidah orang Portugis.
Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang di negeri Caruban
Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai
untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran
Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran
Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan
agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah Muda’im minta agar diijinkan
tinggal di Pasambangan atau Gunungjati.
Syarifah Muda’im dan putranya yaitu Syarif Hidayatullah meneruskan usaha
Syekh Datuk Kahfi membuka Pesanteren Gunungjati. Sehingga kemudian dari Syarif
Hidayatullah lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunungjati. Tibalah saat yang
ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan
Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479, karena usianya sudah
lanjut, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan Negeri Caruban kepada Syarif
Hidayatullah dengan gelar Susuhunan artinya orang yang dijunjung tinggi.
Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah
berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang
Prabu diajak masuk Islam kembali tapi tidak mau. Meski Prabu Siliwangi tidak
mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di
wilayah Pajajaran.
Syarif Hidayatullah kemudian menlanjutkan perjalanannya ke Serang. Penduduk
Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan
Gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah
dijodohkan dengan putri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari
perkawinan inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang anak yaitu
Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama Islam di
Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati tidak bekerja sendirian,
beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di Masjid Demak.
Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya Masjid Demak.
Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para wali lainnya ini akhirnya
Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memproklamirkan
diri sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan. Dengan berdirinya
Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang
biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.
Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin
bertambah besarlah pengaruh Kasultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti:
Surantaka, Japura, Wanagiri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi
wilayah Kasultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara
Jati, makin bertambah besarlah pengaruh Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang
besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri
Tiongkok. Salah seroang keluarga istana Cirebon kawin dengan Pembesar dari
negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara
Cirebon dan negeri Cina makin erat.
Bahkan Sunan Gunungjati pernah diundang ke negri Cina dan kawin
dengan putri kaisar Cina yang bernama Putri Ong Tien. Kaisar Cina yang pada
saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang
Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dengan negeri Cina. Hal
ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia
perdagangan.
Sesudah kawin dengan Sunan Gunungjati, Putri Ong Tien diganti namanya
menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar, ayah putri Ong Tien ini membekali
putrinya dengan harta benda yang tidak sedikit. Sebagian besar barang-barang
peninggalan putri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang
masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan masjid Cirebon kemudian
dihiasi dan diperluas lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina.
Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu
Pakungwati atau istri Sunan Gunungjati. Dari pembangunan masjid itu melibatkan
banyak pihak, diantaranya wali songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh
Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan alijaga mendapat penghormatan untuk
mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan ummat. Selesai membangun
masjid, diteruskan dengan membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan Cirebon
dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di
seluruh tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas
perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran
sendiri sudah semakin terhimpit.
Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka
ingin meluaskan kekuasaannya ke pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa yang jadi
incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya
besar yang mengancam kepulauan Nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim
Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka.
Tetapi usaha itu tak membuahkan hasil, persenjataan Portugis terlalu lengkap,
dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat dim Malaka.
Ketika Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Malaka)
bernama Fatahillah ikut berlayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak aman lagi
bagi mubaligh seperti Fatahillah karena itu beliau ingin menyebarkan agama
Islam di Tanah Jawa.
Pada tahun 1521 Sultan Demak dipegang oleh Raden Trenggana putra Raden
Patah yang ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana inilah Fatahillah
diangkat sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan mengusir Portugis di
Sunda Kelapa.
Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan Portugis di Malaka sekarang
harus mengangkat senjata lagi. Dari Demak mula-mula pasukan yang dipimpinnya
menuju Cirebon. Pasukan gabungan Demak Cirebon itu kemudian menuju Sunda Kelapa
yang sudah dijarah Portugis atas bantuan Pajajaran. Mengapa Pajajaran membantu
Portugis? Karena Pajajaran merasa iri dan dendam pada perkembangan wilayah
Cirebon yang semakin luas. Ketika Portugis menjanjikan bersedia membantu
merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon maka Raja Pajajaran
menyetujuinya.
Mengapa Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu tidak dipimpin oleh Sunan
Gunungjati? Karena Sunan Gunungjati tahu dia harus berperang melawan kakeknya
sendiri, maka diperintahkannya Fatahillah memimpin serbuan itu.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalamannya bertempur di
Malaka, tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu
sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan
Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran
kalah. Portugis kembali ke Malaka, sedang tentara Pajajaran cerai berai tak
menentu arahnya.
Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para
pemberontak yaitu sisa-sisa pasuka Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan
karena Fatahillah dibantu oleh putra Sunan Gunungjati yang bernama Pangeran
Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa
Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin. Fatahillah kemudian diangkat sebagai
Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.
Fatahillah tidak dapat tinggal lebih lama di Jayakarta, karena Gunungjati
selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya untuk meluaskan daerah Cirebon agar
Islam lebih merata di Jawa Barat.
Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih Fatahillah. Akhirnya Sunan
Gunungjati memanggil ulama dari Pasai itu ke Cirebon. Sunan Gunungjati
menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara kedudukan Fatahillah
selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Ketika usia
Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat putranya yaitu Pangeran
Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon kedua dengan gelar Pangeran Pasara
Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon sering disebut Tubagus atau Kyai Bagus
Pasai diangkat menjadi penasehat sang Sultan. Sunan Gunungjati lebih memusatkan
diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati atau pesantren Pasambangan.
Namun lima tahun sejak pengangkatannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin meninggal
dunia mendahului ayahandanya.
Kedudukan Sultan kemudian diberikan kepada Pangeran Sebakingking yang
bergelar Sultan Maulana Hasanuddin, dengan kedudukannya di Banten. Sedang
Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai kasultanan tapi Sultannya hanya
bergelar Adipati. Yaitu Adipati Carbon I. Adipati Carbon I ini adalah menantu
Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan Cirebon oleh Sunan Gunungjati. Sunan
Gunungjati wafat pada tahun 1568 dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, Pangeran
Cakrabuana beliau dimakamkan di Gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula
Kyai Bagus Pasai. Fatahillah dimakamkan di tempat yang sama, makam kedua tokoh
itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga.
Legenda Sunan Gunungjati
dan Putri Cina
Kurang lebi sekitar tahun 479, Sunan Gunungjati pergi
ke daratan Cina dan tinggal di daerah Nan King. Di sana ia digelari dengan
sebutan Maulana Insanul Kamil.
Daratan Cina sejak lama dikenal sebagai gudangnya ilmu pengobatan, maka di
sana Sunan Gunungjati juga berdakwah dengan jalan memanfaatkan ilmu pengobatan.
Beliau menguasai ilmu pengobatan tradisional. Di samping itu, pada setiap
gerakan fisik dari ibadah shalat sebenarnya merupakan gerakan ringan dari
terapi pijat atau akupuntur –terutama bila seseorang mau mendirikan shalat
dengan baik, benar lengkap dengan amalan sunnah dan tuma’ninahnya. Dengan
mengajak masyarakat Cina agar tidak makan daging babi yang mengandung cacing
pita, dan giat mendirikan shalat lima waktu, makam orang yang berobat kepada
Sunan Gunungjati banyak yang sembuh sehingga nama Gunungjati menjadi terkenal
di seluruh daratan Cina.
Di negeri Naga itu Sunan Gunungjati berkenalan dengan Jenderal Cheng Ho dan
sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, serta Feis Hsin, ketiga orang ini sudah
masuk Islam.
Pada suatu ketika Gunungjati berkunjung ke hadapan Kaisar Hong Gie,
pengganti Kaisar Yung Lo dari dinasti Ming. Dalam kunjungan itu Sunan
Gunungjati berkenalan dengan putri Kaisar yang bernama Ong Tien.
Menurut versi lain yang mirip sebuah legenda, sebenarnya kedatangan Sunan
Gunungjati di negeri Cina adalah karena tidak sengaja. Pada suatu malam, beliau
hendak melaksanakan shalat Tahajud. Beliau hendak shalat di rumah tapi tidak
bisa khusyu’. Beliau heran, padahal bagi para wali, sahalat tahajud itu adalah
kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemudian Sunan Gunungjati shalat di atas perahu yang ditambatkan di tepi
pantai Cirebon. Di sana beliau dapat shalat dengan khusyu’. Bahkan dapat tidur
dengan nyenyak setelah shalat dan berdoa.
Ketika beliau terbangun, beliau merasa kaget. Daratan pulau Jawa tidak
nampak lagi. Tanpa sepengetahuannya beliau telah dihanyutkan ombak hingga
sampai ke negeri Cina.
Di negeri Cina beliau membuka praktik pengobatan. Penduduk Cina yang
berobat disuruhnya melaksanakan shalat. Setelah mengerjakan shalat mereka sembuh.
Makin hari namanya makinterkenal, beliau dianggap sebagai shinse atau tabib
sakti yang berkepandaian tinggi.
Kabar adanya tabib asing yang berkepandaian tinggi terdengar oleh Kaisar.
Sunan Gunungjati dipanggil ke istana. Kaisar Cina hendak menguji kepandaian
Sunan Gunungjati. Sebagai seorang tabib dia pasti dapat mengetahui nama seorang
yang hamil muda atau belum hamil.
Dua orang Kaisar disuruh maju. Sedang yang seorang lagi masih perawan namun
perutnya diganjal dengan bantal sehingga nampak seperti orang hamil. Sementara
yang benar-benar hamil perutnya masih kelihatan kecil sehingga nampak seperti
orang yang belum hamil.
“Hai tabib! Mana di antara puteriku yang hamil?” tanya Kaisar. Sunan
Gunungjati diam sejenak, ia berdoa kepada Tuhan. “Hai orang asing mengapa kau
diam? Cepat kau jawab!”, bentak Kaisar Cina.
“Dia!” jawab Sunan Gunungjati sembari menunjuk putri Ong Tien yang masih
perawan. Kaisar tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Demikian pula
seluruh menteri dan semua orang yang ada di balairung istana Kaisar. Namu
tiba-tiba tawa mereka terhenti, karena putri Ong Tien menjerit keras sembari
memegangi perutnya. “Ada apa anakku?” tanya Kaisar. “Ayah! Saya benar-benar
hamil!”
Maka gemparlah seisi istana. Ternyata bantal yang di perut Puteri Ong Tien
telah lenyap entah kemana. Sementara perut putri yang cantik itu benar-benar
membesar seperti orang hamil.
Kaisar munjadi murka. Sunan Gunungjati diusir dari daratan Cina. Sunan
Gunungjati menurut. Hari itu juga ia pamit pulang ke Pulau Jawa. Namun Puteri
Ong Tien ternyata terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunungjati maka dia minta
kepada ayahnya agar diperbolehkan menyusul Sunan Gunungjati ke Pulau Jawa.
Kaisar Hong Gie akhirnya mengijinkan puterinya menyusul Sunan Gunungjati ke
Pulau Jawa. Puteri Ong Tien dibekali harta benda dn barang-barang berharga
lainnya seperti bokor, guci emas, dan permata. Puteri cantik itu dikawal oleh
tiga orang pembesar kerajaan yaitu Pai Li Bang seorang menteri negara, Lie Guan
Chang dan Lie Guan Hien. Pai Li Bang adalah salah seorang murid Sunan Gunugjati
tatkala beliau berdakwah di negeri Cina.
Dalam pelayaran ke Pulau Jawa, mereka singgah di Kadipaten Sriwijaya.
Begitu mereka datang para penduduk menyambutnya dengan meriah sekali. Mereka
merasa heran.
“Ada apa ini?” Pai Li Bang bertanya kepada tetua masyarakat Sriwijaya.
Tetua masyarakat balik bertanya,”Siapa yang bernama Pai Li Bang?” “Saya
sendiri”, jawab Pai Li Bang. Kontan Pai Li Bang digotong penduduk di atas
tandu. Dielu-elukan sebagai pemimpin besar. Dia dibawa ke istana Kadipaten
Sriwijaya. Setelah duduk di kursi Adipati, Pai Li Bang bertanya,”Sebenarnya apa
yang telah terjadi?” Tetua masyarakat itu menernagkan,”Bahwa Adipati Ario Damar
selaku pemegang kekuasaan Sriwijaya telah meninggal dunia. Penduduk merasa bingung
mencari penggantinya, karena putera Ario Damar sudah menetap di Pulau Jawa.
Yaitu Raden Fatah dan Raden Hasan.
Dalam kebingungan itu muncullah Sunan Gunungjati, beliau berpesan bahwa
sebentar lagi akan datang rombongan muridnya dari negeri Cina, namanya Pai Li
Bang. Muridnya itulah yang pantas menjadi pengganti Ario Damar. Sebab muridnya
itu adalah seorang menteri negara di negeri Cina.
Setelah berpesan demikian Sunan Gunungjati meneruskan pelayarannya ke Pulau
Jawa. Pai Li Bang memang muridnya. Dia semakin kagum kepada gurunya yang
ternyata mengetahui sebelum kejadian, tahu kalau dia bakal menyusul ke Pulau
Jawa. Pai Li Bang tidak menolak kleinginan gurunya, dia bersedia menjadi
Adipati Sriwijaya. Dalam pemerintahannya Sriwijaya maju pesat sebagai kadipaten
yang paling makmur dan aman. Setelah Pai Li Bang meninggal dunia maka nama
kadipaten Sriwijaya diganti dengan nama kadipaten Pai Li Bang. Dalam
perkembangannya karena proses pengucapan lidah orang Sriwijaya maka lama
kelamaan kadipaten itu lebih dikenal dengan sebutan Palembang hingga sekarang.
Sementara itu Puteri Ong Tien meneruskan pelayarannya hingga ke Pulau Jawa.
Sampai di Cirebon dia mencari Sunan Gunungjati. Tapi Sunan Gunungjati sedang
berada di Luragung. Puteri itu pun menyusulnya. Pernikahan antara Puteri Ong
Tien dengan Sunan Gunungjati terjadi pada tahun 1481, tapi sayang pada tahun
1485 Puteri Ong Tien meninggal dunia. Maka jika anda berkunjung ke makam Sunan
Gunungjati di Cirebon janganlah anda merasa heran, di sana banyak ornamen Cina
dan nuansa-nuansa Cina lainnya. Memang ornamen dan barang-barang antik itu
berasal dari Cina.
Semoga sejarah singkat WALOSONGO bisa bermanfaat untuk generasi muda kita sehingga menjadi inspirasi kita untuk selalu berjuang di jalan Alloh